Seri Catatan: On Beauty and Terror [1] Gigi

[2] Gigi

Lakon kehidupan ini begitu unik, gila, dan menakjubkan. Lalu kita seperti dilempar, disepah, ke dunia yang berserakan ini. Kadang semuanya kutinggalkan begitu saja ketika dunia luar begitu memuakkan dan segalanya nampak keruh. Tapi betapapun aku berusaha menjauh dari dunia lilliput itu, justru semakin aku merindukannya dan merasa Ia begitu kencang berbisik menarikku, mendekat.

Mungkin aku bukan orang yang religius. Tapi bisa dibilang aku sangatlah spirituil. Aku meyakini daya kekuatan yang sifatnya non-materi, non-fisik. Apapun itu sebutannya. Selalu ada keyakinan dalam diriku pada kekuatan yang tak nampak, yang bisa bergerak dan menggerakkan. Dan begitulah aku percaya bahwa segalanya saling terhubung, saling bicara dan mendengarkan.

Tahun 2024 adalah tahun yang… seperti hujan meteor beruntun! Selain banyak hal baru yang kupelajari, kualami dan menimpaku, ada pula keputusan-keputusan besar yang kuambil. Dan niat awal aku menulis seri catatan ini, adalah tentang keindahan sekaligus teror yang kualami. Aku ingin menulis ketakutan-ketakutan (kerentanan-kerentanan dan kepayahan-kepayahan) kecil yang akhirnya kudekati, setelah sekian lama selalu kuhindari, bahkan tanpa sadar tidak kugubris. Baru kusadari, aku terlalu nampak kuat dari semua sisi, tanpa sedikit pun sadar bahwa bagian ‘lemah’ dalam diriku pun perlu kuanggap ada, bahkan kurengkuh dan kuterima sebagaimana adanya.

-

Sewaktu SD, sekolahku punya program periksa ke Poli Gigi Puskesmas bagi anak-anak yang dalam usia pergantian gigi. Aku selalu menolak. Entah apa alasannya, aku merasa tak butuh untuk mencabut gigi ke dokter. Aku ingin gigiku tanggal pelan-pelan dengan sendirinya, sehingga aku tak merasakan sakitnya gigi dipaksa ditarik dari akarnya, atau merasakan sakit-kebas karena disuntik bius. 

Satu kali saja aku mau pergi ke dokter, tapi berhasil lolos, karena gigiku masih cukup kuat untuk dicabut. Rasanya selalu takut jika harus periksa gigi ke sana. Jadi sampai usia belasan, gigi-gigi susuku copot dengan sendirinya tanpa bantuan dokter. 

Jika waktunya ogak (gigi mau lepas), mamak selalu cerewet untuk menyuruhku menggoyang-goyang gigi pakai lidah sampai gual-gail dan lepas sendiri. Mamak selalu mengingatkan supaya gigiku tidak gingsul dan sasang sarik (tumbuh tidak beraturan). Kalau tidak, kata mamak, aku akan menyesal kelak. 

Pun sebenarnya tak ada paksaan. Mamak hanya mewanti supaya aku memperhatikan sendiri gigiku, aku masih ingat kata-katanya, “Digatekne awake, diogak-ogak, nek ora mbesuk getun dewe.” Setelah kurenungkan, ternyata sejak kecil aku selalu dididik untuk konsekuen dengan pilihanku sendiri, tanpa sedikit pun diberi arahan. Dan aku pun tumbuh jadi pribadi yang memproses segalanya di dalam benakku seorang diri. Aku belajar dari apa yang kupilih dan kualami sendiri, alih-alih diberi tahu ini begini, atau itu begitu. 

Jadi aku selalu menggoyang-goyang gigi sepanjang hari sampai ia lepas sendiri. Meski pada akhirnya ada satu gingsul di deretan gigi atas, yang menjadi tanda seumur hidup bahwa aku ‘ngeyel’.

Keluargaku punya riwayat sakit gigi, kecuali Mamak dan Mas. Waktu kecil, sambat gigi ngilu, berlubang dan gusi bengkak sudah jadi langganan. Waktu balita, gigiku yang depan gigis, keropos seperti daun dimakan ulat dan warnanya kehitaman. Aku tak tahu kenapa, mungkin seperti kata orang-orang tua: kebanyakan makan permen. Waktu masuk SD, gigi keropos itu akhirnya sudah berganti jadi gigi baru yang putih. Tapi gigiku yang baru ukurannya besar sekali. Bahkan Bapak sering bercanda, menjuluki gigiku sak pethel-pethel. Awalnya aku selalu malu dengan susunan gigiku, dua maju seperti kelinci, gingsul, dan kekuningan. Jika aku melihat potretku waktu kecil, ukuran gigiku memang besar-besar, bahkan aku pernah merasa tak percaya diri untuk senyum meringis. Aku selalu tak pede dengan bentukan mulutku. Suatu saat kelak, aku pengen pasang behel. Begitu batinku waktu kecil. Namun, hingga entah kapan, aku sudah bisa menerima gigiku dan bibirku, dan senyumku. Seapa adanya.

Sakit gigi dan masalah mulut membuatku dengan sendirinya paham konsekuensi dari kebiasaan buruk. Tak hanya soal menyikat gigi, aku jadi mulai memperhatikan kesehatan mulut. Setelah besar dan bisa cari duit sendiri, aku berjanji untuk tak takut ke dokter gigi, membayar biayanya berapapun itu. Karena dulu, uang untuk ongkos gigi tentu tak masuk dalam daftar pengeluaran Bapak, betapapun itu esensial bagiku. Aku harus cari uang sendiri untuk biaya-biaya hal di luar uang sekolah dan makan.

Di tahun 2024, aku sudah mencabut dua gigi geraham. Atas dan bawah. Bagian bawah bahkan sampai ke dokter bedah mulut karena hanya sisa akar dan sulit dicabut dengan cara biasa. Saking lamanya kubiarkan hingga ia rapuh keropos dan patah. 

Geraham atas, ini yang paling sakit dan beberapa bulan lamanya kusesali keputusan mencabut gigi itu. Pasalnya, gigi yang berlubang besar ini ternyata masih sangat kuat akarnya. Setelah dicabut, aku baru tahu akarnya berbentuk seperti kail dan masih sangat kokoh. Aku ingat waktu itu pergi ke dokter sendirian, hampir sejam satu dokter dan seorang asistennya mengerubungiku. Rahangku rasanya seperti akan sempal. Sambil tegang dan takut, aku seperti ingin menyetop mereka, kabur dan menyerah. Tapi gigi itu sudah terlanjur diporak porandakan. Sudah ditarik, dibelah, dibur pakai mesin runcing kecil dan disemprot cairan menyengat yang tak tahu itu apa. 

Akhirnya, aku hanya bisa berserah. Keputusan berangkat ke dokter gigi sudah kuambil, tak bisa aku mundur. Aku berkata dalam hati, pada diriku sendiri, bahwa aku ikhlas gigiku dicabut. Aku mengatakan, tak apa jika gigi ini lepas, mungkin waktunya sudah sampai hari ini saja. Terima kasih sudah menjadi bagian dari diriku, aku merelakannya tanggal, demi kebaikan dan kesehatanku. Lepaslah. 

Ini jadi pengalaman yang selalu kuingat, karena tepat setelah aku membatin demikian, gigi itu copot. Dokter itu menghela napas panjang. Sampai di balik maskernya aku merasakan dengusan angin. Aku pun lega, meski sedikit ada rasa sedih. Bagaimana tidak, aku ompong. DUA.

Yah setelahnya aku tak lagi kesakitan. Dua warisan gigi masa laluku yang imbas dari kebiasaan buruk waktu kecil itu akhirnya tercerabut. Aku mesti membayarnya, dengan rasa sakit dan kehilangan.

Beberapa waktu seusai cabut gigi, beberapa kali aku mimpi buruk. Hhh segitu traumakah aku dengan cabut gigi? Satu mimpi terakhir yang kuingat, aku mimpi gigi geraham atasku copot. Di mimpi-mimpi sebelumnya, jika aku tahu itu mimpi buruk, aku segera bangun dan mengibaskan rambut tiga kali lalu berdoa dalam hati, itu semua hanya bunga tidur. Tapi saat mimpi gigi copot itu, rasanya sangat jelas dan nampak seperti realita. Sampai ketika bangun aku tak merasa itu mimpi buruk, sehingga tak berdoa atau apa.

Satu mimpi itu membuatku terus kepikiran, sampai satu hari kuceritakan pada Mamak lewat telepon. Aku tak bisa menangkap raut mukanya saat itu, hanya saja, sekian detik ia tak segera bicara. Katanya, aku hanya perlu berdoa supaya tak kenapa-kenapa, besok lagi, jika mau tidur mesti mengucap doa. Turu bagas, tangi waras.

Hari berlalu. Kuingat bulan-bulan penghujung 2024 itu terasa berat. Selain lumayan riweuh mengurus wisuda. Aku mulai dapat tawaran pekerjaan baru dan freelance, juga liputan masih kujalani. Juga harus bolak-balik Jogja-Wonogiri karena Bapak sakit. Sambil tetap mengurus komunitas dan organisasi. Sebelum bekerja di media sekarang, aku bahkan pernah melamar dan diterima jadi guru Bahasa Inggris untuk sebuah lembaga kursus di wilayah Solo Raya. Pekerjaan itu sudah niat bakal kujalani, sampai di hari yang sama saat onboarding, seorang HRD juga menjadwalkan untuk telpon menyangkut detail tawaran fulltime di mediaku sekarang bekerja.

Waktu itu, aku pikir bekerja di rumah jadi pilihan baik, walau gaji tak seberapa, aku bisa bantu segala hal yang di rumah, apalagi saat Bapak mulai sakit-sakitan. Aku selalu merasa perlu hadir di rumah dengan segala tetek bengek-nya dan di saat bersamaan, tanpa melepas tanggung jawab dan segala urusan yang sudah kuambil di Jogja. Meski kadang tak tahu apa ujungnya, sejujurnya aku selalu sabar dengan itu semua dan kulakoni saja hingga satu-satu selesai, tanpa menjelaskan apa-apa pada siapa-siapa.

Inilah yang membuatku kalut sampai berlama-lama. Jika banyak lakon kujalani tanpa sempat cerita ke seorang pun, kenapa soal mimpi aku malah menceritakannya pada Mamak? Harusnya, waktu mimpi gigi geraham lepas waktu itu aku diam, menyimpannya sendirian seperti yang selalu kulakukan. Konon, mimpi buruk tak semestinya diungkapkan, ia bisa menjadi kenyataan. 

Gigi adalah lambang kekuatan besar, fondasi, pijakan, figur yang dekat. Dalam tafsir mimpi Kejawen, mimpi kehilangan bagian tubuh ini jadi pertanda sebuah kehilangan pula. Aku mimpi gigiku tanggal, sesaat sebelum Bapak meninggal. 

Betapapun aku menyangkal, tubuh memang adalah miniatur jagat. Jagat alit. Apa yang hilang dari dalam diriku, juga telah hilanglah di luar diriku. Apa yang lepas, menandakan satu fase hidup tengah selesai. Dan satu-satunya cara yang kuingat, adalah mengatakan sekali lagi, persis ketika aku hendak mencopot gigi: waktunya sudah sampai hari ini saja. Terima kasih sudah menjadi bagian dari diriku, aku merelakanmu Pak, demi kebaikan. Lepaslah. Lepaso paranmu, jembaro kuburmu.


- to be continued

[3] Hujan dan Guntur

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seri Catatan: On Beauty and Terror [1] Kupu-Kupu

Drink My Words

Bukan Cerita Werkudara dan Arimbi