Postingan

Menampilkan postingan dengan label pendapat

Understanding Love?

Gambar
Only fairly recently, “love” in a romantic way, became the thing that always popped up in my head. There is always a trigger that makes me keep thinking about it. A joke from my friends or just constant quips and questions as to why I remain alone in the midst of the hustle and bustle of this world. In the middle of a conversation, a friend said, “Your heart is cold.” And I seem too idealistic, they said. But what's the point of life if you don't have value to hold? Or in another moment, the other friend stated that I choose to be single because I'm difficult to approach and too hard to open up with men. Some said I am just not ready yet to be in a relationship. Or something must be wrong within me. A friend once said, that I probably don’t have sexual attraction toward another. I know he’s not that serious, but I just get it seems confusing. Why did people see me just like a rare anomaly girl, only because I have never been in a romantic relationship?  I let too many aside...

Gaslighting: Ketika Kita Menjadi Begitu Payah

Gambar
Beberapa waktu yang lalu aku membaca ulasan di Quora tentang bentuk pelecehan emosional atau penyiksaann mental. Dan aku tertarik untuk menguliknya lebih jauh. Pelecehan tersebut membuat seseorang secara emosional berada dalam kegamangan yang luar biasa. Pikiran kita bisa dimanipulasi sedemikian rupa oleh orang lain. Sehingga kita selalu dalam kondisi meragukan diri sendiri. Kita terus mempertanyakan, mencari kepayahan dalam diri kita. Bahkan kita tak yakin dengan ingatan, sudut pandang dan kewarasan diri kita sendiri. Semua ini dapat terjadi. Dan pemantiknya adalah perlakuan manusia lain. Dalam istilah psikologi, inilah yang disebut gaslighting. Aku percaya bahwa setiap orang memiliki kekuatan dari dalam dirinya. Namun kita kan tak hidup sendirian saja di dunia ini, kita berelasi dan saling memengaruhi. Itu hal fundamental, dan banyak dari kita tak menggubrisnya. Kita sering mengabaikan bahwa kita dengan yang lain saling terkoneksi. Sehingga apa yang kita atau mereka lakukan, saling...

Mengubah Realita, Mencari Getaran yang Senada

Aku menebak-nebak alasan Tuhan menciptakan dua telinga kita yang tak bisa terkatup seperti mulut dan mata. Barangkali Tuhan menempelkan telinga yang berdekatan dengan batok kepala ini agar kita tak berhenti terpapar suara-suara. Sebab di dunia yang ramai ini kita adalah pendengar abadi. Bahkan ketika terlelap, dunia seisinya tetap berbicara pada kita. Setiap saat. Semua entitas selalu dalam pergerakan dan menimbulkan gelombang-gelombang suara yang konstan. Pelan atau keras, dekat maupun jauh. Darah yang mengalir, pita suara yang bergetar, derap langkah, pintu yang memuai, kepakan sayap, angin yang berhembus mengenai daun, awan yang berjalan, gunung yang bergeser dan seterus-seterusnya. Kini kuyakini satu hal, bahwa kita sejatinya ialah makhluk pendengar. Senada dengan Einstein menuturkan, “Everything in life is vibration.” Semua dalam kehidupan ini merupakan vibrasi. Begitu pun emosi dan pikiran kita.   Untuk itulah vibrasi tersebut—termasuk kata-kata kita—adalah sesuatu yang...

Ketidaksepakatan sebagai Kunci Pluralisme

Ketidaksepakatan sebagai Kunci Pluralisme Perbedaan adalah kodrat bagi manusia. Tak ada satu pun elemen di dunia ini yang tercipta sama. Bayi kembar identik sekalipun, memiliki banyak perbedaan. Baik itu dari letak tahi lalat hingga watak pribadinya. Latar belakang yang berbeda itu pula yang menyebabkan manusia berbeda-beda dalam berpikir dan mengambil keputusan.   Seorang pembawa acara wawancara Candid Insight, bernama Sahil Badruddin dalam sebuah pidatonya di TEDx Talks 30 Januari lalu menyatakan bahwa perbedaan, khususnya perbedaan pendapat merupakan hal yang lumrah. Ia mengungkapkan, k e tidaksepakatan adalah bagian yang tak terhindarkan dari kondisi manusia, namun sering kali disertai dengan konflik. Tanpa perbedaan dan ketidaksepakatan, tak akan mungkin muncul keragaman intelektual atau pluralisme. Pluralisme seringkali dihadapkan dengan konteks sosial yang didefinisikan secara umum sebagai bentuk keberagaman masyarakat, baik dari segi adat istiadat, suku ...

Tentang Paradoks Batu

Paradoks. Paradoks menurut pemahaman saya adalah sebuah kata untuk mewakili keadaan yang disana terdapat beberapa premis, dimana premis-premis tersebut kontradiktif dengan apa yang sebelumnya biasa ada dan dianggap benar. Paradoks pada bayangan saya adalah seperti cabang-cabang yang bercabang-cabang tak ada ujung, seperti lapisan-lapisan yang berlapis-lapis tak ada habis. Pernah dengar omnipotence paradox ?   Paradoks yang mempertanyakan tentang kemahakuasaan Tuhan, seperti halnya “ The Paradox of Stone ”: Bisakah Tuhan menciptakan sebuah batu yang sangat berat hingga dia sendiri tak dapat mengangkatnya ? Apa yang saya tangkap adalah sebenarnya paradoks tersebut berangkat dari entah pertanyaan atau pernyataan tentang kemampuan Tuhan menafikan dirinya. Hal itu dapat kita lihat dari presmis-premis pokok dari paradoks ini yang menggiringnya pada jawaban iya dan tidak . Jika iya , bahwa Tuhan bisa menciptakan batu yang sangat berat hingga dia sendiri tak dapat mengangkatny...

Kontribusi Efektif untuk Negeri Hanya dengan Pikiran Positif

Anak muda merupakan salah satu aset yang sangat berharga bagi sebuah negeri. Hal itu dikarenakan anak muda dinilai sebagai generasi penerus yang mampu berkontribusi besar bagi kemajuan bangsa. Dengan harapan yang besar tersebut, secara tidak langsung nasib bangsa ini kedepannya berada di pundak anak mudanya. Namun, masalahnya adalah tidak semua anak muda sadar akan tanggung jawab yang diembankan pada kita atau hanya sekedar sadar tetapi kita tidak tahu bagaimana caranya berkiprah. Sehingga kita lebih memilih untuk melakukan hal-hal yang lebih kita sukai tanpa peduli akan pengaruhnya serta bagaimana nasib bangsa nantinya. Lebih disayangkan lagi jika kita hanya menjadi anak muda yang gemar berpikir kritis namun terlampau apatis, mengkritisi pemerintahan, mencela sesuatu yang tidak sepihak dengan kita, mencari-cari celah perbedaan, memaki, membenci atau menilai buruk segala hal yang ada di sekitar kita, di negeri kita sendiri. Sebuah negeri itu seperti rumah kita sendiri. Berantakan a...