Postingan

Menampilkan postingan dengan label penanda

Seri Catatan: On Beauty and Terror [2] Gigi

Gambar
[2] Gigi Lakon kehidupan ini begitu unik, gila, dan menakjubkan. Lalu kita seperti dilempar, disepah, ke dunia yang berserakan ini. Kadang semuanya kutinggalkan begitu saja ketika dunia luar begitu memuakkan dan segalanya nampak keruh. Tapi betapapun aku berusaha menjauh dari dunia lilliput itu, justru semakin aku merindukannya dan merasa Ia begitu kencang berbisik menarikku, mendekat. Mungkin aku bukan orang yang religius. Tapi bisa dibilang aku sangatlah spirituil. Aku meyakini daya kekuatan yang sifatnya non-materi, non-fisik. Apapun itu sebutannya. Selalu ada keyakinan dalam diriku pada kekuatan yang tak nampak, yang bisa bergerak dan menggerakkan. Dan begitulah aku percaya bahwa segalanya saling terhubung, saling bicara dan mendengarkan. Tahun 2024 adalah tahun yang… seperti hujan meteor beruntun! Selain banyak hal baru yang kupelajari, kualami dan menimpaku, ada pula keputusan-keputusan besar yang kuambil. Dan niat awal aku menulis seri catatan ini, adalah tentang keindahan sekal...

Seri Catatan: On Beauty and Terror [1] Kupu-Kupu

Gambar
[1] Kupu-Kupu Bulan Oktober menuju November lalu, saat kemarau tinggal sisa-sisa, aku banyak menempuh perjalanan panjang. Sepanjang bulan itu, aku bisa pulang saban minggu. Dan sepanjang bulan itulah, perjalanan pulangku dipenuhi kawanan kupu-kupu kuning. Ribuan kupu-kupu kuning itu terbang bergerombol, sampai kadang-kadang mereka menempel, menabrak mengenai helemku. Rasanya gidik, ngeri, sekaligus takjub. Aku punya ketakutan yang aneh pada kupu-kupu. Mungkin sudah sampai tingkat fobia, karena rasa takut itu tidak rasional dan kurasa berlebihan. Entah apa sebab dan juntrungnya, yang jelas, seperti ada trauma tersendiri ketika melihat serangga terbang yang dinilai punya sayap menawan oleh sebagian besar orang itu. Saat belia, sekitar kelas satu atau dua SD, aku berjingkatan main ke pekarangan rumah. Seperti yang biasa kulakukan: keliling kebon, menjumputi bebijian, daun, bunga dan benda-benda unik di tanah. Kami punya satu pohon mlinjo besar di barat rumah. Pohon itu selalu jadi t...

Hantu Pulang

Gambar
  Tatkala aku merasa jemu mengikuti generasi-generasi dan letih menyaksikan prosesi orang-orang dan bangsa-bangsa, aku duduk seorang diri di lembah hantu-hantu, dimana kenangan-kenangan dari generasi lalu bersembunyi, dan semangat dari zaman mendatang berbaring menunggu. - Kahlil Gibran Ada bencana besar yang dibiarkan menyantap dan menelan banyak dari kita, secara bulat-bulat, dengan serempak. Menggilas menuju puas. Kita dikunyah habis, disesap sampai saripati diri habis. Tak ada sesepah pun yang dilepas. Bencana besar itu membuat tak sedikit perkara jadi hambar dan hilang dayanya. Ia menyudahi kita langsung dalam momen suntuk, ketika tak sesiapa pun dapat digenggam, dan tanpa selera terhadap apa-apa. Malam ini, aku menyadari satu kata yang lebih dari tiga kali kujumpai dalam sehari. Kata itu, barangkali yang beberapa hari ini mengusik: pulang. Aku selalu percaya bahwa kata-kata dan ide-ide adalah pesan, meski diendapkan dalam durasi yang lama akan terus menghantui pikiran sampai ...

Pesan

  Kemarin sore dalam perjalan pulang dari rumah Simbok, sebutan untuk nenekku, aku naik motor dengan ibu ke arah barat. Saat itu juga, aku tak bisa lepas pandang dari bulatan cahaya oren. Matahari sore itu seperti tak berhenti melihatku. Seperti punya suara. Sedang aku mencoba mendengarnya melalui indera mata. Aku bahkan menyetir motor tanpa kesadaran penuh. Kami melaju mengikuti jalan menikung, berliku ke arah kiblat. Aku terpana. Setiap hari aku terpana melihat rupa-rupa matahari. Tak pernah kutemukan matahari seindah hari itu dengan hari lain. Pun dengan matahari hari ini, hari esok dan esoknya lagi. Setiap hari bagiku pesonanya tidaklah sama. Semua tampil dalam versi terbaik. Pada sebuah tanjakan di bawah pohon trembesi aku berhenti. Mengajak ibuku benar-benar memperhatikan pemandangan itu. Ibuku sekadar mengakui keindahannya, dan seolah merasa keindahan itu milik sang matahari sendirian. Tidak untuk siapapun yang memandangnya. Ia turun dari motor. Aku sedikit terhenyak denga...

Tumbal Hidup Puan

  Perempuan itu selalu murung. Hatinya telah luka begitu dalam. Bumi yang dipijak sudah penuh duri. Rautnya masam. Ia disakiti oleh luka yang tak jujur. Ia melemah dan jadi limbung. Tak punya gairah lagi untuk memancarkan cahaya dalam dirinya. Rahimnya berkali-kali dilukai. Kemudian ia dikhianati oleh luka pada rahim lain. Sungguh, perempuan itu adalah manusia penuh kasih. Namun satu penghianatan menghancurkan semuanya. Cukup sudah ia dicabik-cabik, dikoyak-koyak. Lelaki memang hanya bisa menimbulkan luka. Perempuan itu berang dan kelewat kecewa. Bukan karena dirinya yang terluka. Ia cukup setia. Pun itu saja yang ia inginkan. Bukan balasan kasih yang ia mau. Sungguh. Ia hanya ingin, tak ada perempuan lain yang dilukai. Jika kau mencari pengorbanan paling gila oleh makhluk ciptaan Tuhan. Bukan lebah yang menyengat mangsanya dan rela mati dengan meninggalkan sebagian tubuhnya. Tapi perempuan. Perempuan berkorban melebihi lebah. Ia tak rela mati seperti lebah. Ia tak sepengecut i...

Menengok Batas dalam Diri yang Melindungi

Begini. Selama ini yang kukenal, aku punya berlapis-lapis ruang pembatas tebal yang mengelilingi diriku. Dan kupikir tak hanya aku. Semua manusia yang hidup dan banyak bicara ini, pun memiliki batasan itu. Setidak-tidaknya. Tidak semua orang dapat menembusnya. Tak semua orang pantas, kau semua harus tahu itu.  Seseorang merasa mengenalku, bahwa tabiatku begini atau begitu. Tabiat itu bukan berarti tepat seperti bagaimana diriku sendiri mengenal diriku. Bisa sama sekali meleset. Ini sangat wajar. Jangan mengerutkan dahi. Setiap dari kita—manusia yang sulit membuka telinga ini—memiliki warna dan lakon hidup masing-masing. Kita bertumbuh dalam petak tanah kita sendiri. Mana mungkin semua sama rata?!  Jika kau inginkan yang sama, tak ada yang bisa kau lakukan selain berebut. Potensi konfrontasi. Dan kau tahu sendiri, kita ini sebagai manusia tak pernah mau ada konflik. Hidup terus dan teruslah dalam kenyamanan, bukan? Jadi ketika seseorang mengenalku, menginterpretasiku, aku mafhu...

Berdoalah sebelum Tidur

Malam itu aku kembali bermimpi. Setelah sekian lama. Beberapa hari tidurku memang tak karuan. Aku tak pernah punya intensi untuk membiarkan diriku memejamkan mata. Hingga selalu tidur datang tanpa kehendak. Selalu terlelap dalam keadaan ketiduran ketika mengerjakan sesuatu. Lalu bangun tanpa satupun mimpi yang diingat. Hanya pulas, gelap saja waktu tidur. Namun malam itu aku bangun membawa ingatan dari alam sana. Seingatku ketika bangun aku lekas berkaca dan mengecek gigiku. Aku mimpi gigiku copot! Awalnya aku tak terlalu memikirkannya. Selang sehari, mimpi itu terpikir juga olehku. Dalam mimpi itu aku hanya memegang gigiku. Namun tiba-tiba gigi taringku yang sebelah kanan atas terjatuh. Dan aku ompong. Di dalam mimpi itu aku berkaca. Ada rasa sesal waktu itu. Senyumku dalam kaca berubah. Manisnya senyumku bersama gigi taring itu hilang. Dan aku agak ngeri. Karena senyumku jadi aneh. Lalu saat itu juga, tiba-tiba taring sebelah kiri ikut ompong. Alam mimpi memang ganjil, segalanya ...

Sempoyongan

Kemarin Bapak telepon dan bilang agar aku minum air kelapa muda. Aku tidak tahu pasti maksud baiknya. Ia menjelaskan dengan bahasa yang sulit kuutarakan. Tapi aku cari di internet, air kelapa muda memang bisa menjadi detoksifikasi. Aku manut dan orang-orang baik di rumah mencarikannya untukku. Hari berikutnya, semangka. Kata Bapak semangka juga baik buat kepala yang sedang tak bersahabat. Pagi tadi Yu Sri lewat depan rumah dan membawa semangka yang habis dia beli dari tukang sayur keliling. Kebetulan sekali, dan aku senang. Karena Mamak sudah mencarinya ke penjual sayur tidak ketemu. Dengan senang hati Yu Sri memberikan semangka itu. Aku hanya makan seiris. Sisanya kubalut plastik dan kutaruh kulkas. Kuharap Yu Sri mau mengambilnya lagi nanti sore, dan kita makan semangka sama-sama. Beberapa hari ini aku memang tidak dapat puasa karena sesuatu dalam tubuhku menolak untuk melaksanakannya, aku juga tidak tahu maksud mereka apa. Tapi kalau aku tidak makan, aku tidak bisa minum ramuan pahi...

Lulus!

Terkadang saya menyadari bahwa saya telah tumbuh begitu cepatnya menuju dewasa. Waktu tak ubahnya hanya kedipan-kedipan cahaya yang cepat. Saya sudah lulus sekolah menengah atas! Cepat sekali. Sampai di umur tiga tahun saya tak tahu apa yang sudah saya lakukan dalam kehidupan ini. Saya juga tak ingat rasa dan bahasa apa yang ada pada diri saya waktu itu. Banyak imajinasi. Saya mulai sekolah di Taman Kanak-Kanak dari umur empat tahun kurang sampai lima tahun. Waktu itu saya  adalah anak yang pendiam. Saya ingat sekali. Saya tidak punya teman selain sepupu sendiri. Saya tidak seperti teman-teman lain yang ceria dan aktif bermain sana-sini. Ketika ingin bermain di sebuah wahana permainan saja, seringkali saya tak mendapat giliran. Bayangan ketika saya harus selalu menunggu giliran untuk bermain nampak dalam ingatan. Waktu itu saya selalu menunggu, meski tahu tidak mendapatkannya sampai bel masuk berbunyi. Entah perasaan apa yang saya rasakan waktu itu,yang jelas saya agak sedih ...