Postingan

Menampilkan postingan dengan label puisi

Sareh

Gambar
Pak, aku menunggumu di banyak tempat yang kusinggahi Aku hanya duduk di separuh bangku, kusisakan ruang untukmu duduk di sampingku Air ini tak pernah kuminum habis, masih ada  sisa yang bisa kau sesap Aku selalu terlambat, mengulur waktu seolah menunggu kau datang menjemput dan mengantarku ke tempat-tempat yang kumau Tangisku tak pernah tuntas, masih ada segumpal yang membeku untuk kutumpahkan di hadapanmu Tulisanku belum juga sampai paragraf terakhir, masih ada kalimat yang ingin kuselesaikan dengan mengutip ucapanmu Aku tidak pernah dandan sampai menor, kubiarkan jerawat dan kerutku nampak, biar satu hari kau melihat betapa aku tidak sempurna  Aku selalu memetik bunga-bunga kecil di jalan, untuk kutaruh di sembarang tempat Begitu pun aku juga berharap kau hadir di setiap tempat, menjelma jadi apa saja,  selalu kusisakan semuanya, untuk mengunjungi ingatan tentangmu Pak, bisakah kau lahir kembali jadi perempuan? yang tidak menanggung duka, yang utuh, tidak menyisakan apa...

Ziarah

Gambar
Aku ziarah panjang dan lama, pada diriku sendiri Menaburi bunga dan wewangian, pada sekujur tubuhku aku mengenang, mendoakan, dan menangisi diriku yang mati, saban hari Dari duka menahun yang diukir di atas nisan yang berupa adegan-adegan dan kenangan-kenangan Di sana aku menyambangi petilasanku dipenuhi belukar yang dilingkupi berita tentang: bencana-bencana besar Pada jiratku tertulis, “yang tak beristirahat dengan tenang” Aku terbaring menanti segera disucikan, dengan peluh dan air mata manusia di seluruh dunia yang tertimpa duka menahun berupa adegan dan kenangan berupa ulah, tindak, laku berupa berita tentang: rencana para pembesar Doa dan rapal dipanjatkan,  lewat perhatian berjam-jam pada layar Aku meracik sesaji untukku sendirian Bunga-bunga dan wewangian semerbak terbakar di atas bokor, asapnya meliuk membentuk adegan dan kenangan berupa peluh dan air mata seluruh manusia di dunia yang kubawa sampai ke liang tempatku berbaring mati menunggu esok hari, hidup lagi, saban har...

Hazy

Gambar
Bagaimana hari-hari lewat seperti penggerogot, seperti ngengat dan rayap, yang membuatku-hatiku-kikis, lubang,  remah di mana-mana Berai-berainya menimbulkan kehampaan yang luar biasa menumpuk di sudut diriku Seperti setumpukan debu, mereka tersapu angin, terseret kaki-kaki waktu yang setapak-tapak jalan tanpa henti Serpihanku aus, hilang, terbang, ke arah dingin... ke arah panas... ke arah cahaya dan semburat Aku berserakan dan terkumpul, berserakan dan terkumpul,  pada titik-titik tak menentu, bersemayam pada embun esok hari, disesap ngengat, atau rayap yang di dalam dirinya tak punya ketakutan untuk kehilangan apa-apa Palagan, 2025.

Drink My Words

Gambar
kepalaku teras yang menangkap gaduh dari ruang tengah menadah kepala lain yang lasah ia rongga lapang, dibawa angin buritan yang mengarah-arah kepalaku, serba wadah kata-kata di dalamnya rutin tumpah meluber jadi sumpah-sumpah kepalaku bunyinya lebih ringan daripada napas yang berdesah, tak lebih deras dari alir darah ia bunga karang, digerus air pasang yang memecah-belah di dalamnya, susah payah hanya sebesar zarah kepalaku, adalah bayang rintang yang menyaksikan tangan-tangan menengadah ia menunggu seorang penerjemah, yang asalnya dari antah berantah, kata-kata di dalamnya menjelma ruh-ruh basah: masuk ke cawan yang dituang oleh tanganku, diminum seteguk orang seisi rumah.

Lakuning Srengenge

Gambar
Aku lahir selaku matahari, terang dan panas Waktu bayi wujudku nyaris bulat sempurna, kering tanpa tangis Merangkak dengan sinar-sinar yang berkilatan Lalu terbit jadi belia, berjingkatan jadi pusat hari-hari Lelap dan terjaga dari sisi-sisi berbeda Muncul membenam di saat yang sama Dikitari kabut lembut sekaligus badai api-api Darahku adalah pendar Mengalir hangat Menguap memancar Tanganku adalah sinar Menyentuh semua Menembus pandang Ludahku api menyala Menerangi, atau lamat membakar Aku tua selaku matahari, terik dan berjarak Sorotku memeluk segala,  membuat gamblang,  membuat buta Aku berdiri dari kilau-kilau, yang tak sekalipun dijamah Kecuali ia sama-sama bara, yang juga nyaris bulat sempurna, ikhlas tanpa pamrih

Karat

Kita diterpa terik di pagi hari, dihujam hujan menjelang petang, dingin menjekut di malam-malam. Badan kita mudah oleng, hati kita mudah goyah. Pada suatu masa, usia kita bakal menyusut cepat seperti kuota internet, ingatan kita lekas hilang karena sudah terlalu banyak nonton video pendek Tiktok.  Wajah kita mulus dan kinclong karena skincare lebih laku daripada nasi anget sarapan di pagi hari. Kita sebentar lagi tiba di satu masa, dimana jerawat bisa diakali, dosa bisa ditebus lewat konten. Pada suatu masa, kita akan tiba di momen dimana kemurungan jadi gaya hidup. Kita akan melampaui tuli: bisa bicara tapi tak bisa mendengar. Jiwa kita dibiarkan melayang-layang tanpa sadar. Ragam manusia liyan datang mendekat, ingin bertandang dan cari tempat pulang. Tapi kita tak benar-benar terhubung. Kita terputus-putus, gampang pikun, cepat sambat, dan mudah lelah.  Kita tak benar-benar berpegang teguh pada satu hal yang membuat kita punya rasa hidup.  Suatu hari, batin yang tenang ...

Ujung Pertemuan

Pada sebuah telaga terbentang puncak gunung dan ujung laut Kalau kau bediri di bibir pantai, kepalamu harus mendongak hingga gunung berada di jangkauan Dari atasnya semua terhampar Begitulah cara pandang keduanya Puncak melihat laut setelah telaga Laut hanyalah pada gunung   Pada sebuah telaga seorang gadis bertemu dengan dirinya sendiri Bermimpi tentang perjalanan jauh ke atas gunung Dan tak ada yang pernah tahu sampai ia hanyut di air telaga yang juga menuju dirinya sendiri Merengkuh ia pada angin gunung, lalui lembah telaga lalu laut ialah ujung

Makam

  Adakah kamu selalu mendengar suara kematian di dalam dirimu? Suara itu begitu sumbing diantara bisingnya derap langkah masing-masing Setiap liang dilalui getaran yang mendesir getir Sewaktu-waktu, ada pemberhentian yang berlinang Tak ada yang tersisa lagi. Tak ada yang dibisa lagi, kecuali berhenti Tidakkah kamu menyadari, setiap pori-pori ialah liang lahat? Mereka hanya menanti untuk diajak kembali pada peristirahatan paling akhir di dalam dirimu

Duduk Bersila Menghadap Timur

Aku menghadap timur Namun ini bukan waktunya mentari muncul Malam-malam dan hujan-hujan Tak ada rembulan Ia berteduh di bawah rumah-rumah yang terbalik Jamur di hutan yang bergelantungan, pohon yang jungkir balik Malam-malam dan hujan-hujan Aku bersila menghadap timur Ada yang berkecamuk di segala penjuru Semuanya basah, lalu gundah Barangkali hujan turun membawa susah dan gelisah Sejuk ini terlalu dingin gemericik terlalu berisik semburat-semburat saja semuanya Masih kuingat suasana siang Namun saat aku tak sedang menghadap timur duduk bersila Saat itu juga langit nampak terang menawan Saat menghadap timur, aku tak tertegun Sebab ketika muram-muram, ketika malam-malam dan hujan-hujan, langit turun terlalu jatuh Bukan barangkali sesuatu yang teramat luka serta sia-sia jatuh terlalu turun menjadi basah dan gundah menumbuhkan jamur dan pohon yang bergelantung dan jungkir balik Semuanya basah Semuanya gundah Menawan Menyeruak k...

Je Suis Grise

Je suis Grise J'ai vu comment ses yeux étaient fixés sur la chambre du cœur mort Le faisceau de lumière était gris Il n'y a pas de reflet même si ses yeux sont un miroir Il marchait lentement avec ses mains rampant sur le mur Les murs sont faits de mots parfois bruyants et coulants Marcher sur un déversement une tasse de larmes Le point culminant de la lumière grise l'a amené à marcher pour me voir Puis juste devant mes yeux, je ne vois que du gris /// Aku-Abu Aku melihat bagaimana matanya menatap lekat-lekat pada ruangan hati yang mati lampu Sorot cahaya itu berwana abu-abu Tidak ada pantulan meski matanya adalah cermin Ia berjalan pelan dengan tangan yang merambat pada tembok Tembok-tembok terbuat dari kata-kata yang kadang bising dan runyam Diinjaknya bekas tumpahan secangkir air matanya Sorot cahaya abu-abu menuntunnya berjalan menemuiku Lalu tepat di depan mata aku hanya melihat aku yang berwarna abu-abu

Bukan Sepotong Senja untuk Pacarku

Setidaknya aku ingin seperti Sukab yang memberi sepotong senja untuk Alina Andai kedua mataku dapat memotret apapun yang kujumpa Setiap sepersekian detak akan kucetak apapun yang bermakna Berikut apa yang aku pikirkan tentangnya Akan ada ribuan potongan berikut judul dan keterangannya dan bukan hanya senja Seperti potret kabut sunub yang musnah sebelum berjumpa dengan tanah Udara yang berlari dikejar udara dari mulut manusia Atau apapun itu misalnya Dan bersamanya akan kau beri potongan-potongan itu makna Setidaknya kau tak akan seperti Alina Kau akan lengkap dan tak akan berpikir bahwa dunia ini fana Kau akan memaknaiku dengan selengkap-lengkapnya Selayaknya aku memberi makna pada apapun yang kujumpa Kamu tak akan membaca kata-kata lain selain yang kutulis pada potongan berikut judul dan keterangannya Tapi kau dan aku tahu bahwa andai selalu bertemu namun di dunia yang kata Alina fana Mataku tak dapat memotret dan tentu saja kau bukan Alina Maka berseraklah ka...

Sebelum Tahu Rasa

Kemarin lusa aku membawa seonggok daging di depanmu seperti kapas Besok lusa aku membawa seonggok daging lagi dengan tulang-tulang keras Aku datang pada ruang dan waktu yang sama tapi kau tak bernapak tilas Kemarin lusanya besok lusa aku membawa seonggok daging lagi Di depanmu tanpa tulang Di tanpamu bertulang-tulang Aku datang pada ruang dan waktu yang sama dengan daging yang sama tulang-tulang kaku dan keras pula Kau yang tak ada

Selamat Mati

Mataku membelalak, aku terbangun dari kobaran api lalu kuhentak-hentakkan kakiku Menghinggut-hinggut hingga roboh semua setan-setan yang mati dalam tubuhku Berkoar-koar melagukan syair penanda hari Selamat datang Selamat pagi Selamat siang Selamat sore Selamat petang Selamat malam Selamat pulang Setan-setan yang mati roboh Setan-setan yang hidup bangkit Tubuhku ini seakan kapas terbakar, namun mataku seperti bola api menyalak-nyalak Menghentak-hentakkan hingga bangkitlah yang hidup Menghinggut-hinggut hingga robohlah yang mati Selamatkan syair penanda hari Tak ada peduli pada kobaran api Tak ada peduli pada yang mati Selamatkan syair penanda hari Sebab untuk hidup, harus ada yang mati

Cahaya Senyap dan Pintu yang Terbuka

Bagaimana aku tak linglung Jika ketika kusuruh pintu untuk tertutup ia hanya diam Cahaya yang entah dari bintang yang paling bahari dari bintang pemungut cahaya bintang lain bintang buatan atau bintang-bintang lain yang aku tak peduli Sampai cahaya cempala itu menerobos mengenaiku Aku jadi linglung dan malah mataku yang tertutup Lalu semuanya gelap seperti sesuatu yang entah apa aku tak peduli Semuanya gelap, senyap-senyap Bagaimana aku tak linglung Jika mataku tertutup, tubuhku masuk menyusuri lorong diriku Semuanya gelap, senyap-senyap Tak ada yang kuketahui Sebab pintu-pintu terus terbuka dan kegelapan enggan bercerita tentang rasa-rasa yang entah apa aku tak peduli Bagaimana aku tak linglung Jika kudapati semuanya diam sembari berbisik bahwa aku ini tak lebih dari kumpulan rasa yang tak diketahui entah apa aku tak peduli  

Senyum Ejek Hujan

Aku dengar itu Gelak nabi dari rinai-rinainya awan Terlihat riuh namun pada halnya ia adalah perihal yang singular Lalu bumi telah terlanjur basah Dan pada momen yang sama sang waktu menggertak Lalu aku dengar dengan jelas lagi itu Dalam basahnya bumi ada sesuatu yang meronta-ronta kekeringan Begitu gaduh namun pada halnya ia adalah perihal yang hambar Selalu   tuduh benci itu memang terpayah Hingga ketika semuanya reda tak ada momen untuk menidak Aku mungkin tak dengar lagi itu

Dengar Aku Cak!

Kuceritakan kau tentang Chiaroscuro satunya selain kertas yang kugambar kemarin saat aku melakukan tarian tanpa gerak Sedikit saja kuceritakan, tak semuanya Aku tak paham bagaimana interesmu kini dan nanti, setidaknya aku tahu bahwa memang itu tak ada Kuceritakan sedikit saja sampai jalanan benar-benar nyenyat Tak usah kau tegur, sebab mataku akan spontan berhenti ketika benda-benda bising itu pulang kandang Kuceritakan sangat sedikit saja, jangan khawatir Tetaplah di bawah lampu itu Tetaplah diam disitu Namun kau boleh memilih suara-suara bising itu daripada cerocosan mataku tentang Chiaroscuro Tetaplah disitu, jangan beranjak Jangan beranjak dengan melewati kabel atau aku akan berhenti bercerita

Fantasi Chiaroscuro

Gambar
Aku tertawa tanpa suara Sebab mata-mata yang tak terpejam itu tak melihat Di waktu yang sama Aku masih menari tanpa gerak Walau mata-mata yang tak terpejam itu masih tak melihat Di waktu yang sama Mereka yang di dekatku jauh Terus-terusan bernyanyi mengiringi tari tanpa gerakku Sangat tak selaras "Tak ada yang mau selaras!" Tanganku melonjak pergi Merobek lembaran kertas catatan logaritma Yang berserakan mengitariku Tanganku melukis fantasi fantastis yang lama sembunyi dibalik kelam Aku tertawa terbahak Mentari seketika menerobos mengenai lukisan itu Indah sekali Lukisan fantasi tanganku kini mirip chiaroscuro Di waktu yang sama Aku berhenti menari dengan iringan orang dekatku yang jauh Selama mata-mata yang tak terpejam itu tak melihat Aku terus membuat chiaroscuro fantasiku

Sajak Tentang Langit dan Sesuatu yang Setara dengan Hujan

Sesuatu  yang  seharusnya   dingin   itu   akhirnya   keluar   sebaliknya Terasa   hangat   melewati   bukit  rona Membaur   bersama   hujan Suatu   impuls  yang tak  dapat   tertakrifkan Ia  hanya  ingin   jatuh   mengiringi   hujan  sore  ini Dingin  aroma  hujan  yang  meruap   beserta   talanya  yang  nyarik Menyeruak  masuk  meniti   belahan   langit   padanan   senja Sedang   apa   empunya   haluan   sajak  sore  ini ? Akankah   sesuatu  yang  hangat   tadi   mengikuti   hujan   berkondensasi Diterpa   angin   menuju   belahan   langit   padanan   senja Terjatuh , m engenai sang  empunya   haluan   sajak Menyeruak  masuk  meniti   belahan   langit   sajak  ...

Budak Candra Sangkala

Romanku buram tertutup candra sangkala Kusuguhkan senyum basi pada kumpulan awan penabah Bahana keras terus berhembus bersama angin sejuk Mengkerutku atas retorika setengah nafsi Aku berlari menuju bukit pasir Membawa bendera uap dan kutancapkan kukuh "Tak ada yang perlu diratapi!" Kumpulan awan penabah, bahana keras dan komplotannya menganga Lalu mereka berpindah haluan Yang masih ada hanyalah angin sejuk Tertiup memutariku dan menyenggol bendera uapku Teriakku lirih sekali "Sekarang, aku budakmu candra sangkala!"

Serpihan Karang

Laut terkekeh melihat pasir Ia terheran Mengapa pasir tak seperti karang yang berdiri kokoh walau terhempas ombaknya Sedangkan pasir mudah terombang-ambing mengikuti kemana ombaknya Laut terkekeh sekali lagi Tentang apa yang dikatakan angin ketika mampir Bahwa ia belum tahu Jika pasir adalah serpihan karang