Sareh













Pak, aku menunggumu di banyak tempat yang kusinggahi

Aku hanya duduk di separuh bangku, kusisakan ruang untukmu duduk di sampingku

Air ini tak pernah kuminum habis, masih ada  sisa yang bisa kau sesap

Aku selalu terlambat, mengulur waktu seolah menunggu kau datang menjemput dan mengantarku ke tempat-tempat yang kumau

Tangisku tak pernah tuntas, masih ada segumpal yang membeku untuk kutumpahkan di hadapanmu

Tulisanku belum juga sampai paragraf terakhir, masih ada kalimat yang ingin kuselesaikan dengan mengutip ucapanmu

Aku tidak pernah dandan sampai menor, kubiarkan jerawat dan kerutku nampak, biar satu hari kau melihat betapa aku tidak sempurna 

Aku selalu memetik bunga-bunga kecil di jalan, untuk kutaruh di sembarang tempat

Begitu pun aku juga berharap kau hadir di setiap tempat, menjelma jadi apa saja, 

selalu kusisakan semuanya, untuk mengunjungi ingatan tentangmu

Pak, bisakah kau lahir kembali jadi perempuan?

yang tidak menanggung duka, yang utuh, tidak menyisakan apa-apa 

pada siapa-siapa



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seri Catatan: On Beauty and Terror [1] Kupu-Kupu

Hazy

Dear Sore, Urip Mung Saderma Nglakoni