Postingan

Telapak-telapak...

I simply live.

Gambar
I don’t know how to explain this, but I truly want to say these lines: that somehow, life is so easy. I feel like deep down in my heart, I always carry enough space to believe that anything in this world is possible, as long as we believe  it is.  I know that holding this kind of belief sounds pretty bullshit. But, all I want to say is that we all have already won the life we wanted, if our goal is simply: to experience. Indeed, this world is so chaotic. There is so much inequality, so many human rights violations that have happened. But history always tells us to learn. But do we, anyway? It is so absurd that now I just keep going with my life, even in its saddest parts. Knowing that all this sorrow will not stay, I feel it all as a blessing. I do appreciate all my feelings, and let them all happen at the same time. I just let it pass. Same with happiness. Everything is temporary, and because of that, I have no reason to grip it tightly. The death of my father taught me a lot...

Sareh

Gambar
Pak, aku menunggumu di banyak tempat yang kusinggahi Aku hanya duduk di separuh bangku, kusisakan ruang untukmu duduk di sampingku Air ini tak pernah kuminum habis, masih ada  sisa yang bisa kau sesap Aku selalu terlambat, mengulur waktu seolah menunggu kau datang menjemput dan mengantarku ke tempat-tempat yang kumau Tangisku tak pernah tuntas, masih ada segumpal yang membeku untuk kutumpahkan di hadapanmu Tulisanku belum juga sampai paragraf terakhir, masih ada kalimat yang ingin kuselesaikan dengan mengutip ucapanmu Aku tidak pernah dandan sampai menor, kubiarkan jerawat dan kerutku nampak, biar satu hari kau melihat betapa aku tidak sempurna  Aku selalu memetik bunga-bunga kecil di jalan, untuk kutaruh di sembarang tempat Begitu pun aku juga berharap kau hadir di setiap tempat, menjelma jadi apa saja,  selalu kusisakan semuanya, untuk mengunjungi ingatan tentangmu Pak, bisakah kau lahir kembali jadi perempuan? yang tidak menanggung duka, yang utuh, tidak menyisakan apa...

Sesaat Kau Hadir...

Gambar
Jogja seperti teman dekat yang dulu begitu terkoneksi, tapi sekarang ikatan batin itu entah kenapa memudar. Aku seperti tak punya lagi akses untuk kembali terkoneksi. Entah siapa yang menjauh, ataukah memang masanya sudah usai.. Teman dekat itu, seperti menyimpan banyak kecewa di dalam dirinya, dan memilih pergi. Ia tak lagi punya radar yang kuat untuk sekadar saling menyapa dan memikirkan di alam batin. Hatiku, seperti menyembul-nyembul tanpa tertaut. Jaringan tak tersambung, seperti panggilan telepon tak terjawab. Saat aku datang, Jogja cuma mampu mengulang riwayat-riwayat yang telah lewat.  Tapi setidaknya aku selalu menikmati perjalananku pulang dari Jogja ke Wonogiri. Seberapa jauh dan sepinya, momen di motor selalu kurindukan. Momen-momen di mana aku bisa melaju kencang, berdoa kencang, menangis kencang, juga tertawa kencang.  Pekan lalu, aku kembali lagi ke Jogja. Selain untuk absen ke kantor, aku mau menyelesaikan pengiriman merch donasi Palestine yang kubuat, serta ba...

Seri Catatan: On Beauty and Terror [2] Gigi

Gambar
[2] Gigi Lakon kehidupan ini begitu unik, gila, dan menakjubkan. Lalu kita seperti dilempar, disepah, ke dunia yang berserakan ini. Kadang semuanya kutinggalkan begitu saja ketika dunia luar begitu memuakkan dan segalanya nampak keruh. Tapi betapapun aku berusaha menjauh dari dunia lilliput itu, justru semakin aku merindukannya dan merasa Ia begitu kencang berbisik menarikku, mendekat. Mungkin aku bukan orang yang religius. Tapi bisa dibilang aku sangatlah spirituil. Aku meyakini daya kekuatan yang sifatnya non-materi, non-fisik. Apapun itu sebutannya. Selalu ada keyakinan dalam diriku pada kekuatan yang tak nampak, yang bisa bergerak dan menggerakkan. Dan begitulah aku percaya bahwa segalanya saling terhubung, saling bicara dan mendengarkan. Tahun 2024 adalah tahun yang… seperti hujan meteor beruntun! Selain banyak hal baru yang kupelajari, kualami dan menimpaku, ada pula keputusan-keputusan besar yang kuambil. Dan niat awal aku menulis seri catatan ini, adalah tentang keindahan sekal...

Ziarah

Gambar
Aku ziarah panjang dan lama, pada diriku sendiri Menaburi bunga dan wewangian, pada sekujur tubuhku aku mengenang, mendoakan, dan menangisi diriku yang mati, saban hari Dari duka menahun yang diukir di atas nisan yang berupa adegan-adegan dan kenangan-kenangan Di sana aku menyambangi petilasanku dipenuhi belukar yang dilingkupi berita tentang: bencana-bencana besar Pada jiratku tertulis, “yang tak beristirahat dengan tenang” Aku terbaring menanti segera disucikan, dengan peluh dan air mata manusia di seluruh dunia yang tertimpa duka menahun berupa adegan dan kenangan berupa ulah, tindak, laku berupa berita tentang: rencana para pembesar Doa dan rapal dipanjatkan,  lewat perhatian berjam-jam pada layar Aku meracik sesaji untukku sendirian Bunga-bunga dan wewangian semerbak terbakar di atas bokor, asapnya meliuk membentuk adegan dan kenangan berupa peluh dan air mata seluruh manusia di dunia yang kubawa sampai ke liang tempatku berbaring mati menunggu esok hari, hidup lagi, saban har...

Surat untuk kamu, dua puluh lima masehi (lewat)

Gambar
this little girl's loving her world, always 💟 Tahun ini aku tak kober menulis surat untukmu, tepat di hari ulang tahunmu. Tapi kuharap, kamu sudah memaafkanku sebelum kuminta. Lihatlah kita sudah sampai di penghujung tahun. Kamu sudah melampaui banyak peristiwa dalam dua belas bulan ini. Dan lihatlah siapa yang sudah pergi, siapa yang masih tinggal, siapa yang tersisa. Siapa yang selalu kau simpan lamat-lamat dalam hati dan ingatan? Alih-alih menjadi pesan di hari ulang tahun, surat ini mungkin bakal jadi catatan mengenang hari-hari kepungkur. Aku paham betapa koyaknya dirimu, kehilangan demi kehilangan terus terjadi. Mengikismu pelan sampai kadang-kadang kamu linglung bagian mana dari dirimu yang masih tersisa untuk pantas bernyawa. Kahanan di luar dirimu juga menambah kerunyaman, kacau balau dan seolah tak ada sedikit saja bagi bening cahaya masuk ke sela-selanya. Sampai rasanya untuk sedikit bersenang-senang, atau menghidupkan pendar di hatimu lewat hal-hal yang kamu gemari saj...

Hazy

Gambar
Bagaimana hari-hari lewat seperti penggerogot, seperti ngengat dan rayap, yang membuatku-hatiku-kikis, lubang,  remah di mana-mana Berai-berainya menimbulkan kehampaan yang luar biasa menumpuk di sudut diriku Seperti setumpukan debu, mereka tersapu angin, terseret kaki-kaki waktu yang setapak-tapak jalan tanpa henti Serpihanku aus, hilang, terbang, ke arah dingin... ke arah panas... ke arah cahaya dan semburat Aku berserakan dan terkumpul, berserakan dan terkumpul,  pada titik-titik tak menentu, bersemayam pada embun esok hari, disesap ngengat, atau rayap yang di dalam dirinya tak punya ketakutan untuk kehilangan apa-apa Palagan, 2025.