Sesaat Kau Hadir...

Jogja seperti teman dekat yang dulu begitu terkoneksi, tapi sekarang ikatan batin itu entah kenapa memudar. Aku seperti tak punya lagi akses untuk kembali terkoneksi. Entah siapa yang menjauh, ataukah memang masanya sudah usai..
Teman dekat itu, seperti menyimpan banyak kecewa di dalam dirinya, dan memilih pergi. Ia tak lagi punya radar yang kuat untuk sekadar saling menyapa dan memikirkan di alam batin. Hatiku, seperti menyembul-nyembul tanpa tertaut. Jaringan tak tersambung, seperti panggilan telepon tak terjawab. Saat aku datang, Jogja cuma mampu mengulang riwayat-riwayat yang telah lewat.
Tapi setidaknya aku selalu menikmati perjalananku pulang dari Jogja ke Wonogiri. Seberapa jauh dan sepinya, momen di motor selalu kurindukan. Momen-momen di mana aku bisa melaju kencang, berdoa kencang, menangis kencang, juga tertawa kencang.
Pekan lalu, aku kembali lagi ke Jogja. Selain untuk absen ke kantor, aku mau menyelesaikan pengiriman merch donasi Palestine yang kubuat, serta bantu-bantu di kegiatan syawalan dan diskusi Paguyuban Simbah-Simbah Eks Tapol ‘65. Hari-hari sejak Sabtu itu, hingga hari ini aku merasa begitu melankolis. Entah karena lagi di masa luteal phase, atau memang emosiku sedang tak stabil. Lebih dari itu, ada satu hal penting yang kusadari dari kemuraman akut yang kualami baru-baru ini. Karenanya aku menulis di sini, supaya jadi arsip digital yang entah bagaimana, semoga jadi permenungan juga bagi siapa pun yang berkenan membacanya.
Walau sebenarnya aku tak begitu suka berbagi sesuatu yang teramat personal, khususnya soal kesedihan, ketakutan, keraguan, atau bentuk-bentuk kegagalan lain yang membuatku nampak ciut. Tapi sekarang aku berusaha untuk menghargai setiap pengalamanku sebagai manusia, belajar mengakui segala rapuh dan lemahku pelan-pelan. Dulu aku kira, tulisan yang personal itu gak penting buat dibagikan. Aku kira, yang keren adalah tulisan-tulisan yang “omongannya besar”, yang membahas politik, isu sosial, atau teori-teori dan fenomena sosial. Tapi nyatanya, yang personal adalah yang politis. Ia jadi fragmen kecil dari jagad yang besar. Maka aku akan terus mengamati dan menulis segala pengalaman, seremeh apapun itu, di dunia yang liliput ini.
Setiba di Jogja pada sore hari, aku langsung ke daerah Giwangan untuk briefing acara esoknya. Dan malamnya diajak temanku Yafi nonton film Project Hail Mary plus makan gultik sekitaran Jalan Solo. Sekalian COD tumbler Palestine yang dia pesan.
Di sela obrolan saat makan gultik, Yafi tiba-tiba bilang, "Sedih banget sekarang kita gak punya tempat lagi di Jogja." Aku merasa terwakilkan. Karena sama denganku, dia adalah penghuni Jogja tidak tetap. Dia sempat pergi merantau ke pulau sebelah, tapi akhirnya balik lagi ke rumah bulan ini. Sesekali ke Jogja kalau ada urusan, tapi sudah tak ada tempat tinggal.
Kami pun balik. Melewati jalanan gemerlap Jogja, yang makin asing itu...
![]() |
| Thanks to Yafi sudah ngajakin nonton, makan gultik, dan curcol. |
![]() |
| Tumbler Palestinenya. |
![]() |
| Foto pas acara syawalan Simbah '65. |
Esoknya, pulang dari acara paguyuban, dadaku seperti tercekat. Rasanya seperti ada banjir bah yang ingin keluar dari mata, tapi kutahan-tahan (as usually I did). Sebabnya tak kutahu pasti, tapi salah satu pemantiknya adalah ketika di akhir kegiatan kami berkumpul untuk evaluasi. Hari itu akan jadi momen terakhir dilaksanakannya syawalan. Artinya, tahun depan simbah-simbah tak akan lagi berkumpul dalam satu tempat untuk bertemu satu sama lain. Alasannya cukup logis sebenarnya. Simbah-simbah sudah sepuh, usia mereka kebanyakan 80 tahun ke atas. Meski masih sangat semangat berkegiatan, usia renta membuat fisik mereka ringkih. Kami, kawan-kawan muda (sebutan untuk relawan), mesti menuntun simbah untuk jalan, naik ke lantai dua. Lebih-lebih simbah yang jarak rumahnya jauh seperti di Gunungkidul, mereka harus naik bis rombongan, satu jam lebih menuju kota.
Effort yang besar ini, rasa-rasanya tak tega jika terus dilakukan kontinyu. Apalagi di acara tersebut, simbah mesti terkantuk-kantuk dari jam 8 pagi hingga 12 siang, mendengar cuap-cuap dari para pejabat yang tak ada ampasnya. Mereka bilang soal jaminan, soal bantuan, soal program ina-inu yang tak konkret sama sekali.
Aku begitu emosional mendengar simbah bercerita dalam forum, Mbah Hartiti yang tegar menceritakan suaminya yang hilang saat Peristiwa ‘65, Mbah Jayus yang tetap berapi-api menyalakan hidup meski kesehatannya kian menurun, Mbah Basiran yang tetap jenaka melakoni hidupnya lewat berkesenian bareng grup tembang Santi Swaran Kotagede. Aku tahu, untuk bisa bercerita dan nampak legowo seperti mereka, perlu kelapangan hati yang luar biasa untuk menerima lakon hidup. Jalan mereka begitu panjang untuk pulih.
Berada di tengah-tengah simbah dan keluarganya, selalu membuatku tersentuh, entah kenapa. Aku seperti spons yang menyerap rembesan duka yang masih meruap pada mereka. Pengalaman-pengalaman personal mereka di masa lalu, saat ditahan dan diasingkan di Pulau Buru, di Wirogunan, atau saat-saat setelah keluar dengan status Eks Tapol, menjadi sekumpulan ingatan pahit yang terpelihara--menjadi memori kolektif tentang resiliensi mereka selaku korban pelanggaran HAM berat oleh negara. Aku juga terenyuh dengan jalan panjang Mas A dan Mbak A dalam menemani simbah dan keluarganya bertahun-tahun.
Dan hari itu aku pulang dengan rasa sedih yang aneh. Meski kawan-kawan lain bercanda ria, mainan Tiktok, melempar banyolan seperti biasa, aku tak bisa menyembunyikan kesedihanku. Berkali-kali aku hanya bilang kalau aku merasa ngantuk dan pengen segera pulang, padahal dalam hati aku hanya ingin sendiri dalam waktu yang lama, menikmati perasaan muramku.
Tapi sial, saat mau gas, ban motorku bocor. Sialnya juga, di waktu bersamaan, helem salah satu dari teman-temanku hilang. Ada dua keapesan terjadi dalam satu waktu. Sementara mereka sibuk mencari helem, aku melipir, memilih pamit duluan sambil menuntun motor pelan. Tak ada satu pun yang mengantarku. Pun aku tak meminta mereka membantu apa-apa. Aku berjalan ke tambal ban, yang untungnya, tak jauh dari gedung tempat kami berkegiatan.
![]() |
| Tambal ban di samping Gedung Keuangan Negara, Jl. Kusumanegara |
Menunggu tukang menambal ban, dikelilingi bapak-bapak yang nongkrong, mendengar obrolan mereka yang ngalor-ngidul, membuat pikiranku kian menggelayut. Jika ke bengkel sendirian begini, aku jadi kangen bapak. Meski banyak urusan kutandangi sendiri, biasanya sampai rumah aku tetap bercerita, dan ia akan membahas banyak tentang bagaimana seharusnya aku merawat sendiri kendaraanku, harus tahu mesin dan printilan motor, kendati pun aku anak perempuan.
Aku tambah sedih.
Aku tahu, dalam momen-momen sulit seperti ini, aku tak punya siapa-siapa untuk kupercaya atau kuandalkan. Dan benar, di Jogja ini, aku tak punya lagi tempat untuk tinggal. Sebelumnya ini bukan hal menyedihkan yang terlintas di pikiranku, tapi mendapati kenyataan betapa sulitnya aku membiarkan orang lain untuk sekadar menolong atau cukup hadir saja di sampingku, rasanya makin sedih. Mengapa aku tega membiarkan diriku selalu mengemban semua-muanya sendirian?
Lalu aku menepis kabut pikiran itu. Kuhubungi seorang sobat, sekadar menanyakan posisinya waktu itu, agar habis selesai menambal ban aku bisa mampir ke kosnya. Tapi aku akhirnya mengurungkan niat. Aku kembali merasa, tak seharusnya menemui siapa-siapa dalam kondisi kalut. Jadi, setelah dari bengkel aku mengambil paket kaos dan tumbler Palestine, satu kerdus dan satu kresek besar, yang kutaruh di dek depan motor. Hari itu aku menginap di kontrakan lama. Sejak sore sampai pagi, aku hanya tidur. Tak sempat menangis, tak sempat berdoa.
![]() |
| Habis beli bubble wrap dan perintilan untuk packing di tengah panas ngentang-tang. 🙆 |
Hari berlanjut. Aku bekerja sambil wara-wiri di jalan mengurus pengiriman merch Palestine. Masih sempat membantu seorang teman yang kena musibah pula. Laptopnya dilarikan seorang teman dan ia harus menebusnya di tempat gadai. Aku menemaninya sembari tetap mengurus pekerjaan di jalan. Agak hebring dan dar der dor. Tapi hari itu terlewati juga, dan laptopnya masih bisa ditebus, belum terlelang. Kejadian itu jadi pelajaran penting, betapa batasan itu penting. Tak semestinya kita berteman dengan sembarang orang.
Paginya, sebelum pulang, aku melipir ke sebuah kafe. Tangisku pecah justru saat aku dalam kondisi tenang dan sendiri. Aku gak menyangka jadi mbak-mbak galau yang nangis sendirian di pojokan sambil ngopi americano. Pahit manisnya kusesap kunikmati. Aku sudah tidak paham lagi kenapa perasaan sedih yang aneh ini datang. Ada perasaan rindu akut pada sesuatu yang begitu lekat pada diriku. Ada ketabahan yang begitu besar, tapi juga sekaligus rasa ciut dan tak berdaya. Ada rasa kehilangan sekaligus kelapangan. Mungkin aku sudah terlampau lelah dan mengendapkan banyak emosi. Berkali-kali aku menghela nafas, sambil menahan tangis pakai tissue. Tapi air terus menggenang di pelupuk mata, akhirnya aku melipir nangis di toilet. Sampai seorang teman menyusulku, tangisku berhenti. Aku kembali ke setelan pabrik dan nampak beres-beres saja.
![]() |
| Hot americano diminum sama air mata :" |
Emosi sedih selalu kuproses belakangan. Aku tidak bisa langsung murung dan terpuruk ambruk saat ditimpa masalah atau sebab-sebab yang membuatku merasa tak baik. Dalam waktu yang lama, biasanya aku mengendapkan semua emosi itu, sembari terus berfungsi sebagai manusia yang mengurus ini mengurus itu. Bersyukur aku perempuan yang mengalami masa menstruasi. Jadi, seperti alam, aku mengalami pergantian musim yang bisa kutandai waktnya. Dalam masa sebelum datang bulan, saat hormon progesteron dan estrogen menurun, sudah sewajarnya mood-ku tak stabil. Dulu aku kerap kesulitan mengenali tubuhku, tapi kini aku mensyukurinya, bahwa ada masa di mana aku memang mesti hibernasi panjang dan mencerna semua emosi yang mengendap dalam diriku. Kondisi ini membantuku untuk tetap punya kepekaan, agar aku tidak mati rasa. Walau rasanya ketika sedih, dan sedang PMS, sedih dan capeknya nambah-nambah.
Habis dari cafe, aku melipir sebentar ke kantor untuk absen. Rasa sedih itu masih kubawa. Melewati Jalan Solo-Adisucipto itu aku makin sedih karena teringat momen ketika pertama kalinya kudengar Bapak tak ada. Lalu aku membatin setengah berdoa: Tuhan, tunjukkanlah saat ini juga, sesuatu yang bisa kuterima. Sesuatu yang memang digariskan untukku. Jika benar cinta-kasih itu ada, tunjukkanlah.
Lalu.. di tengah jalan menuju kantor, di persawahan itu, aku menengok ke sebelah matahari terbenam. Pemandangan langit sore itu memukauku. Aku berhenti dan memotretnya, sembari menerka-nerka batinku sendiri.
Sesampainya di kantor pun, aku sempat berbincang sebentar dengan Mbak Luci. Seperti biasanya, kamu ngobrol soal "kehidupan". Di antara teman-teman sekantor, kurasa hanya dengan dia aku bisa merasa nyambung. Dia juga orang yang spirituil. (Bisa baca tarot juga! :))
Terus tiba-tiba, di tengah perbincangan Mbak Luci menyodorkan satu deck kartu oracle. Dia menyuruhku mengocoknya, dan ambil satu. Aku manut. Kartu yang keluar warna ungu, berisi tulisan capslock "JUDGEMENT".
Aku menerka-nerka maknanya. Tapi perkataan Mbak Luci cukup membuatku berpikir. Katanya, (semesta berpesan hehe), aku mesti memahami kembali bahwa setiap manusia itu berbeda, punya jalan pikir masing-masing, begitu pun diriku sendiri. Dia bilang, mungkin sama dengannya, aku tumbuh dan dibesarkan di keluarga (terutama oleh ibu), yang menghabiskan hidupnya untuk mengkritik diri sendiri, merasa ciut, dan sulit menerima cinta kasih dari luar.
Dengan mengerti itu, tak semestinya aku merasa rendah atau tak percaya pada orang lain, bahkan pada diri sendiri. Dalam hati aku agak denial. Tapi diam-diam sampai sekarang hal itu masih kurenungi. Belakangan aku juga sadar bahwa aku pun terlalu banyak mencari cela dari diriku. Semacam impostor syndrome, bahkan aku diam-diam selalu tak percaya, bahwa pencapaian yang kumiliki tak pernah cukup untukku bilang bahwa itu hasil upayaku sendiri. Aku selalu merasa itu semua faktor eksternal, entah keberuntungan, entah kebetulan.![]() |
| Langit di dekat jalan arah kantor💟 |
![]() |
| "I understand that everyone has their own unique path and challenges." |
Kubiarkan semuanya menari-nari menggenang di atas kepalaku.
Malam itu kutancap gas Diana menuju rumah. Kusempatkan menyambangi adikku di Klaten. Cukup lama. Karena malam itu kami ngobrol cukup panjang tentang banyak hal, khususnya problem di rumah. Hari itu dia juga kesal denganku, karena pulang malam-malam. Aku tahu dia khawatir, apalagi Mamak berkali-kali menelponku tapi tak terjawab karena aku sedang di jalan. Kita sempat debat kecil, dan aku bilang tak perlu mengkhawatirkan apa-apa.
Jalanan malam pun kutempuh. Sepi dan gelap. Ditemani sorot kecil truk-truk pengangkut pasir. Tapi tak ada apa-apa yang kutakuti, hanya dingin menjekut yang kutahan-tahan. Sepanjang jalan sejauh sekitar 80 kilometer itu, aku memutar lagu "Sesaat Kau Hadir" dari Utha Likumahuwa on repeat, seribu kali ada kayaknya. Dan lagu itu membuatku menangis sejadi-jadinya. Saat di atas motor aku selalu merenungi banyak hal. Aku mencari-cari makna lakon-lakon yang kujalani, aku merenungi kehadiran Tuhan yang lamat-lamat masih terus kuyakini di dalam hati.
![]() |
| Situasi jalanan malam itu, gak ada manusia satu ekor pun. |
Hidup ini beraneka rupa, dan manusia terlalu kompleks untuk dipahami. Kadang saat semuanya terasa berat dan tidak memihakku, aku mempertanyakan semuanya. Seperti hendak teriak sampai nembus langit.
Aku berkata lagi dalam batin, di atas motor itu, pada Tuhan, tolong tunjukkan saat ini juga, bahwa aku masih boleh meyakini-Nya. Bahwa Ia benar-benar hadir. Tunjukkan dengan cara apa pun, sehingga terpatri dalam batinku, hidup ini pantas kujalani, pantas untukku kembali berharap.
Dan.. ban motorku bocor lagi. Di tengah jalanan gelap dan sepi, aku sendirian. Tanganku melambai-lambai, berharap seseorang yang lewat berhenti menolongku. Satu orang lewat begitu saja. Mungkin dia pikir aku hantu. Lalu akhirnya ada satu bapak-bapak berhenti. Aku menanyakan padanya adakah tukang tambal ban yang masih buka. Dia tak yakin, hanya bilang kalaupun masih ada, tambal ban itu berada jauh. Kulihat tak ada gelagatnya untuk membantuku, meski aku sudah memintanya untuk mencarikan. Dia hanya menyuruhku mengikutinya dari belakang. Jadilah aku tetap mengendarai motorku dalam kondisi ban kempes. Pakai ilmu meringankan diri :")
Tapi teganya bapak itu melaju begitu kencang di depanku. Belum berapa lama dia sudah hilang di depan. Aku ditinggal. Dan sejauh hampir 2km, aku melaju menuju tempat yang agak ramai. Akhirnya aku berhenti di sebuah bengkel yang sudah tutup. Tapi kupikir, semoga masih ada pemiliknya di dalam yang mau menolong. Selain itu, di depan ruko itu ada dua orang yang duduk. Kudekati mereka, ternyata dua manusia itu hanya singgah. Mereka tak tahu apa-apa untuk bisa kumintai bantuan. Saat tahu aku mendorong motor pun mereka tak bergerak untuk membantu.
Akhirnya aku ke seberang jalan. Ada warung bakmi. Di sana ada gerombolan bapak-bapak nongkrong dan satu ibu-ibu. Di antara mereka lah yang sudi menolong. Satu orang bapak-bapak kebetulan juga punya bengkel, tapi letaknya jauh, jadi dia ragu untuk mengantarku. Belum apa-apa, dia seperti mengeluh. Aku sudah tidak bisa kesal. Sudah pasrah. Kubilang, "Tidak usah repot-repot Pak kalau keberatan, biar saya cari bantuan lain."
Tapi ada satu ibu-ibu yang simpati. Ia bahkan mau mencarikan pompa ke tetangga sekitar. Aku dikasih segelas minum. Suaminya (yang jual bakmi), menyuruhku duduk di warungnya. Sementara bapak-bapak lain masih nongkrong dan ngudud. Mereka baru menghampiriku setelah kumintai tolong untuk memompakan ban motorku.
Apakah aku memancarkan aura perempuan strong bin tangguh yang tidak butuh ditolong?!
Banyak orang bilang memang aku selalu nampak santai menghadapi sesuatu. Aku jarang kelabakan atau meminta bantuan pada siapa-siapa. Tapi di saat mendesak begini... aku jadi tahu, tak semua manusia punya keringanan hati berbaik pada sesama. Dan.. di dalam hati, aku hanya mengarapkan bantuan Tuhan.
Singkat cerita, ban motorku tak bisa dipompa. Bocor, harus ditambal. Tak ada bengkel buka di jam 11 malam! Sementara jarak rumahku masih sekitar 30km. Meski dipompa, pasti akan kempes lagi. Tidak mungkin kupaksa. Aku diam dan cuma tercenung di dekat motor.
Sampai beberapa detik kemudian... seorang lelaki lewat. Ia berhenti di bengkel seberang jalan yang kuhampiri tadi. "Nah, itu dia masnya yang jaga bengkel balik Mbak!" kata ibu-ibu tadi.
![]() |
| GBU mas-mas bengkel :") |
Aku tahu pertolongan akan datang. Dan malam itu, aku kembali percaya Tuhan tidak membiarkanku terdampar sendirian.
Akhirnya sebelum tancap gas pulang, kisah ini kuakhiri dengan minum teh anget dan makan bakmi godhog! ^^
![]() |
| Sempetin cek muka. Udah kucel gak berbentuk :" |
![]() |
| Foto ini kukirim ke Mamak dan adekku, aku bilang mampir istirahat untuk makan, gak bilang banku bocor :) |
![]() |
| Ibu-ibu dan bapak-bapak yg berbaik hati membantuku |
![]() |
| Ini dia aktor protagonisnya yg bikin banku bocor 3 kali! |



.jpeg)

.jpeg)






.jpeg)
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar
Terima kasih sudah membuang waktumu di tulisan saya. Semoga tidak ada dosa.