Postingan

Menampilkan postingan dengan label lamunan

Surat untuk kamu, dua puluh lima masehi (lewat)

Gambar
this little girl's loving her world, always 💟 Tahun ini aku tak kober menulis surat untukmu, tepat di hari ulang tahunmu. Tapi kuharap, kamu sudah memaafkanku sebelum kuminta. Lihatlah kita sudah sampai di penghujung tahun. Kamu sudah melampaui banyak peristiwa dalam dua belas bulan ini. Dan lihatlah siapa yang sudah pergi, siapa yang masih tinggal, siapa yang tersisa. Siapa yang selalu kau simpan lamat-lamat dalam hati dan ingatan? Alih-alih menjadi pesan di hari ulang tahun, surat ini mungkin bakal jadi catatan mengenang hari-hari kepungkur. Aku paham betapa koyaknya dirimu, kehilangan demi kehilangan terus terjadi. Mengikismu pelan sampai kadang-kadang kamu linglung bagian mana dari dirimu yang masih tersisa untuk pantas bernyawa. Kahanan di luar dirimu juga menambah kerunyaman, kacau balau dan seolah tak ada sedikit saja bagi bening cahaya masuk ke sela-selanya. Sampai rasanya untuk sedikit bersenang-senang, atau menghidupkan pendar di hatimu lewat hal-hal yang kamu gemari saj...

Sepa-Ruh

Gambar
  Beberapa malam ini, ujung telapak kaki tanganku biru. Dingin menjekut seperti tak punya darah. Hari ini aku sengaja keluar pagi-pagi tanpa sarung tangan dan jaket supaya badanku terkena sengat siang hari. Tapi tadi kuamati kulitku mengkerut. Punggung tanganku keriput kering. Pucuk jari-jari dingin. Kuku-kuku seperti terbalut lilin beku. Di tengah jalan pulang, aku bertemu ruh yang ratusan tahun kukenali tapi belum juga kupahami. Ratusan tahun kami berjalan dekat beriringan, disekat kabut. Kadang tipis, kadang tebal. Saat kabutnya tipis, aku bisa menangkap pesan yang ia sampaikan, senyap dan terang. Kosong dan tenang. Saat kabutnya tebal, aku sepenuhnya dijuluki sebagai makhluk bernama manusia. Punya nama, punya sandangan, dan punya banyak kebutuhan-keinginan. Sepenuhnya dungu dan tak bisa bicara apa-apa tentang dirinya. Mencari bahasa lewat kata-kata, dalam puisi, potongan gambar atau larik-larik di buku serta bait lagu yang paling mewakili. Semuanya sengkarutan seperti tak punya...

Karat

Kita diterpa terik di pagi hari, dihujam hujan menjelang petang, dingin menjekut di malam-malam. Badan kita mudah oleng, hati kita mudah goyah. Pada suatu masa, usia kita bakal menyusut cepat seperti kuota internet, ingatan kita lekas hilang karena sudah terlalu banyak nonton video pendek Tiktok.  Wajah kita mulus dan kinclong karena skincare lebih laku daripada nasi anget sarapan di pagi hari. Kita sebentar lagi tiba di satu masa, dimana jerawat bisa diakali, dosa bisa ditebus lewat konten. Pada suatu masa, kita akan tiba di momen dimana kemurungan jadi gaya hidup. Kita akan melampaui tuli: bisa bicara tapi tak bisa mendengar. Jiwa kita dibiarkan melayang-layang tanpa sadar. Ragam manusia liyan datang mendekat, ingin bertandang dan cari tempat pulang. Tapi kita tak benar-benar terhubung. Kita terputus-putus, gampang pikun, cepat sambat, dan mudah lelah.  Kita tak benar-benar berpegang teguh pada satu hal yang membuat kita punya rasa hidup.  Suatu hari, batin yang tenang ...

Sedap Malam

Gambar
Tak ada apapun sebesar dunia yang kau inginkan. Cukup pendar hangat dan dekat di pusat batin, yang kau dekap setiap saat. Tapi kau menangisinya. Hanya pada segala yang lembut dan halus, kau menyambutnya. Sehingga tak ada apapun yang besar menyilaukan, menggelegar, menyengat, menyentak, yang dapat kau terima. Begitulah dirimu yang liliput. Kenapa kau menangisinya? Kenapa kau justru menciut? *** Aku tak menyangka akan tersedu sedan begini. Tak menyangka juga membiarkan susah hati yang berlarut ini nampak dalam derik-derik tulisan, yang entah bakal beredar di internet, atau menumpuk saja di arsip personal seperti biasanya. Aku masih tak menyangka, si sedih menetap begitu lama tanpa kuajak bicara. Selama ini aku ke mana? Kadang-kadang aku merasa habis, meski dada rasanya ingin membuncah. Dan aku selalu mengakhirinya dengan menulis. Syukurlah masih tenggang untuk mengurai kasak-kusuk yang tak karuan ini. Selalu ada momen jeda untuk menepi. Menafsir setiap hal menjadi bahasa, menjadi ruh, ya...

Notula saat malam berasap

Gambar
10/10/2022 | 22.28 | 25°C berawan Keseharian kita barangkali adalah gugusan periodik singkat. Hari-hari yang melekat pada memori masing-masing dari kita telah dengan sendirinya tersekat. Bisa jadi hanya Senin sampai Jumat. Atau hanya hari Ahad, dari bangun sampai lelap. Sisanya kita melayang-layang tanpa tahu pangkal mula kita ajek hidup. Batasnya cuma angan, cuma sembulan-sembulan kecil yang memantik kita buat bergerak. Sepanjang hayat aku ingin percaya, bahwa kita semua tanpa kecuali, sedang dalam perjalanan tamasya mengumpulkan ingatan menuju satu hal ihwal yang begitu didamba. Kita sedang sama-sama membuat satu jalinan yang tak akan pernah nampak, karenanya ia kerap dimaknai hampa. Tapi aku ingin terus percaya dan menjalaninya dengan segala penghayatan, meski jangkanya begitu lamban, rentangnya teramat renggang. Jalan senyap itu, akan diam-diam kita tempuh, bagaimanapun gemparnya dunia.  Aku sama sekali tak merasa terombang-ambing pada saat-saat seperti  itu. Tiada pertunj...

Surat dari kamu untuk aku, dua puluh dua tahun masehi

Gambar
  Telah berapa masa ke pungkur kau biarkan dirimu lampau begitu saja? Pedihnya yang teramat atau memang kamu yang lalai? Rasa-rasanya jalan begitu panjang untuk mentas dari kubangan yang sebetulnya kau gali sendiri. Dan masih saja belum tahu apa musababnya. Tapi sembilan bulan sudah lewat, dan kau baru benar-benar sempat menilik dirimu sendiri. Baru sempat nyalakan lagi pendar yang hampir-hampir habis masanya. Walau, ada yakin yang terpatri, tak akan sampai kamu padamkan janji-janji yang sudah jadi niat. Percikan-percikan kecil itulah yang memantikmu. Kalau tak disulut, ia akan terus mengepul, menyelimut pada benakmu, menjalari mandeknya gerakmu. Walau kelalaian tak sepatutnya terus-terusan kau rawat, terima kasih masih menyisakan setitik yakin, bahwa kau akan terus berupaya meluru terang temara yang menjauh dan kian jauh jika saja tak segera kau rengkuh lagi dan lagi. Bersesak-sesak peristiwa yang kau jalani. Masa yang ditarik ke belakang, adalah pintalan-pintalan penuh arti. Mere...

Sebuah Surat untuk Kamu dari Aku, dua puluh satu masehi

Gambar
Apakah ada sesuatu yang hilang? Adakah yang mati? Terkadang dunia-dunia peri di dalam dirimu menguncup. Telah cukup lama kamu selalu berbenturan dengan dunia liyan yang jauh lebih besar, riuh dan lantang. Dunia peri itu dulu tak peduli dengan apa-apa yang menghantamnya, ia tetap berputar dan membuatmu bahagia lewat mimpi-mimpi. Ia selalu membuatmu meliuk-liuk lepas. Kini, makin lama kamu hidup, rasanya ada yang mati. Pupus dan hilang arti. Saat belia kamu berangan setiap jiwa murni punya peran besar bagi setiap gerak raga dan polah manusia. Kamu menolak tabiat-tabiat gelap. Bahwa setiap hal adalah baik. Segalanya punya cela untuk dibela. Setidak-tidaknya dari benakmu, luka lahir tanpa sengaja. Kamu yang belia adalah sosok jembar hati. Sebab telah ada dunia yang kau punya. Ada dunia yang setiap manusia juga punya. Setiap kepala adalah dunia. Hingga saat dunia-dunia itu dipaksa tak berputar pada porosnya, kau masih juga bertanya, “mengapa?” Setelah besar, dunia yang sedang kamu t...

Tidak Rela

  Mungkin aku terlalu banyak belajar tentang merelakan. Banyak hal lewat benar-benar jadi lampau begitu saja di hadapanku. Tak ada sisa kecuali lamunan hampa. Aku belajar, bahwa seuatu yang lewat begitu saja, artinya itu bukanlah milikku. Dan apapun yang bukan miliki, jauh dari genggamanku, diluar mampuku dan bukan hal yang patut kusesali. Dan hidup, katanya akan begitu tenang. Ditambah baru saja kutamatkan Filosofi Teras, buku itu akhir-akhir ini jadi wacana yang dibahas. Tapi sebenarnya sejak 2019 aku sudah baca-baca soal pemikiran Epictetus hingga Marcus Aurelius. Semua serasa cocok dengan pedalamanku. Beberapa hal seperti kendali pikiran, tindakan, dan respons diri masih bisa kuterima. Sejak awal aku melatih diriku untuk senantiasa menyadarinya. Namun ketenangan yang didamba itu kini kurasakan hanya seperti uap saja. Semu dan tak benar-benar hidup. Aku rasa hidup ini butuh ambisi dan satu rasa bergejolak. Dan ketenangan membuatku larut, hingga hanyut. Selalu dalam suasana ham...

Tumbal Hidup Puan

  Perempuan itu selalu murung. Hatinya telah luka begitu dalam. Bumi yang dipijak sudah penuh duri. Rautnya masam. Ia disakiti oleh luka yang tak jujur. Ia melemah dan jadi limbung. Tak punya gairah lagi untuk memancarkan cahaya dalam dirinya. Rahimnya berkali-kali dilukai. Kemudian ia dikhianati oleh luka pada rahim lain. Sungguh, perempuan itu adalah manusia penuh kasih. Namun satu penghianatan menghancurkan semuanya. Cukup sudah ia dicabik-cabik, dikoyak-koyak. Lelaki memang hanya bisa menimbulkan luka. Perempuan itu berang dan kelewat kecewa. Bukan karena dirinya yang terluka. Ia cukup setia. Pun itu saja yang ia inginkan. Bukan balasan kasih yang ia mau. Sungguh. Ia hanya ingin, tak ada perempuan lain yang dilukai. Jika kau mencari pengorbanan paling gila oleh makhluk ciptaan Tuhan. Bukan lebah yang menyengat mangsanya dan rela mati dengan meninggalkan sebagian tubuhnya. Tapi perempuan. Perempuan berkorban melebihi lebah. Ia tak rela mati seperti lebah. Ia tak sepengecut i...

Dah Lah

  Entah dari mana juntrungnya. Atau memang segala hal di dunia ini ada begitu saja dan kita tak perlu banyak bepikir soal awal akhir dan sebab akibat. Aku selalu seperti berada dalam sebuah pengembaraan yang panjang tanpa ujung. Beberapa hal kukenali dengan sangat akrab, beberapa begitu asing. Meski sebenarnya kita semua sendirian. Kita sendiriannya beramai-ramai! Hidupku banyak sekali kebetulannya. Dan aku masih sangat heran. Bagaimana bisa itu terjadi? Banyak hal terkait-kait. Sepertinya aku bergerak atas satu tuntunan. Meski ada kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa saja kupilih, ada saja sesuatu yang datang. Barangkali inderaku yang kebobolan, ataukah mati rasa? Jujur saja, aku enggan berlarut-larut dalam banyak permenungan. Lebih-lebih ketika aku sedang dalam keramaian. Terkadang kita dibuat untuk saling bercengkerama dan cukup hidup. Meski kita semua terbuat dari luka, kepedihan dan kelinglungan yang teramat sesak, berceracau gembira adalah penyelarasnya. Hidup akan teru...

Pembelot

Sekarang kutanya padamu, mengapa titik mulainya ada pada malam menjelang pagi itu? Waktu itu kamu tak dapat tidur. Terus hidup dan melayang-layangkan bayangan ke segala tempat yang mungkin kau jangkau. Itu hanya kemungkinan. Dan kau tak bisa mematenkannya. Adalah kebiasaanmu membiarkan tirai jendela terbuka. Ibumu menggerutu. Membalut takut dengan keras hati. Anak-anaknya tak boleh jadi budak. Tindak-laku penindas tak akan diturunkan pada sanak-cucu. Biar. Biar satu yang menaggung. Semua harus perkasa. Pesannya selalu dengan dendam. Kutukan sudah terpancar ke setiap penjuru. Menguntit langkah-langkah dan deru nafas rahimnya. Dia mengutuk pada angin. Dan angin merasuki anak-anaknya pada setiap gerak. Anak-anaknya tumbuh bersama luka yang tak jujur. Semua-muanya bertirai. Dan kamu tak boleh, menyaksikan malam. Maka tiraimu hendaknya ditutup rapat ketika hari mulai gelap. Jika cacing tersenggol saja menggeliat. Melawan diam. Maka kamu pun kudu berontak. Apabila penghianat menancapkan luka...

Menemui Makna Dewasa

Hingga kini aku belum juga paham ukuran seseorang dianggap matang. Kurasa tak ada patokan yang pasti. Aku banyak menyaksikan manusia tua yang bersikap kekanakan. Atau seorang anak yang justru mengerti sebuah makna kehidupan yang sepatutnya belum ia pahami. Setidaknya dalam hal ini, ukuran dewasa diukur dari bagaimana seseorang bertindak laku. Pada yang lain. Pada diri sendiri tak mungkin diukur. Memanglah kita hidup di dunia yang selalu keluar. Di luar diri. Di dalam diri ini dianggap bukan sesuatu yang pasti. Kita terlanjur menggubris segalanya yang tampak. Materi adalah senyata-nyatanya kenyataan. Sepasti-pastinya kepastian. Sulit juga memang untuk mendobrak pondasi-pondasi yang telah disusun seumur pikir. Aku hanya berharap pada generasi berikutnya, setidak-tidaknya yang suatu hari nanti sejak kecil dekat dan terasuh olehku serta orang-orang dekatku. Sehingga yang ada bukanlah dobrakan, bukan mencabut akar satu pohon yang telah tumbuh. Melainkan membangun pondasi itu, menanam t...

Lost and Found

Segala hal tak terus menetap, mereka datang dan pergi, hilang dan muncul. Termasuk teman. Termasuk aku juga pada teman-temanku. Kita semua saling menyambangi hanya pada momen-momen tertentu, sisanya kita kembali sendiri. Seutuhnya, selamanya. Di balik seseorang yang kita kenali, ada sosok lain, ada ruang lain dalam diri yang sama sekali tak bisa kita jamah. Begitulah kita ini manusia, seperti samudera yang sangat dalam. Kita hanya mampu menyelam di permukaan. Tak cukup dalam sekali helaan nafas yang kita miliki untuk menyelam ke kedalaman manusia lain, juga diri sendiri. Begitulah kita satu sama lain. Aku pada teman-temanku, juga mereka padaku. Namun dalam hidup, kan kita punya momen untuk saling menyambangi? Saling mengenali. Menyempatkan diri untuk menyelami lautan, meski hanya sampai permukaan. Aku hanya ingin kita saling memahami. Bahwa kita bertemu untuk saling menyapa, bicara, dan bercerita. Telah terpatri dalam diriku, setiap dari kita berada dalam pijakannya masing-masing. Dan ...

Ambisi Mekar

Gambar
Kita semua—setidaknya yang selama ini dijumpai—adalah hasil tempaan. Sejak awal kita telah terlatih. Anehnya semua latihan itu menempatkan kita pada satu seluk-beluk yang sama, meski dengan aba-aba yang tak selaras. Sehingga dalam beberapa momen kita serentak, kita ramai-ramai. Entah untuk melindungi maupun merundungi yang lain. Jiwa-jiwa yang terlatih adalah milik kita. Meski dengan tujuan yang antah berantah dan kalang kabut mencari jejak petunjuk, kita terlatih untuk tetap pongah—juga teguh pada saat yang sama. Kita terlatih untuk membuang segala apapun yang sepele. Apapun itu, kita harus dalam situasi yang penuh kepastian. Kita tak seharusnya jadi muram, suatu saat nanti. Kita harus terus bahagia. Kita harus terus punya pegangan yang kuat. Namun juga jangan sampai kita tak tahu angin apa yang akan berhembus di hari esok. Kita harus tahu semuanya dengan kepastian yang mantap, sebab-akibat yang jelas dan garis warna yang gamblang. Lalu jangan sampai kita diburu-buru waktu, ...

Sebuah Surat untuk Kamu dari Aku, dua puluh tahun masehi

Gambar
Tak apa bila kamu gusar. Namun, si pemburu itu tak lebih dari bayangan yang sewaktu-waktu lenyap ketika cahaya datang. Ia hanya perihal perputaran alam. Lalu dalam banyak momen, ia bersinggungan, terbentur oleh ruang temu yang wajar. Esensimu yang teramat dekat bersama cahaya terang itu. Bayangan-bayangan yang hadir dari hasil kewajaran itu memudar. Berkat satu hal ihwal yang konstan. Terima kasih karena telah menyadari dan merawatnya dengan tulus. Tak ada tangis dan tawa, bila saja kamu tak menghidupinya atas tuntunan hal konstan itu. Sehingga kamu bergerak tanpa kehendak. Kamu telah bergerak sejauh ini. Melampaui banyak momen di ruang temu yang menggusarkanmu itu, membuatmu seringkali menjadi hampa. Kamu bergerak semakin jauh. Namun di saat yang sama, kamu semakin dekat. Pada kejauhanmu yang dekat, teruslah hidup. Semesta terbentuk oleh bayangan-bayangan dan momen-momen, dan mereka akan berlalu sejauh ada hal yang terang. Tetaplah berada dalam jalan yang terang itu. Ruan...

A Better Place to Me If...

Menjadikan dunia sebagai tempat yang indah untuk ditinggali… Terdengar begitu utopis, but I think it’s a possible thing to achieve. Of course, dengan beberapa kondisi yang harus dipenuhi. Setidaknya untuk dunia kita sendiri, lingkungan terdekat kita. What is that? Firstly, aku mau berbagi satu hal yang menjadi dasar dari semuanya, satu hal yang kuyakini semua orang menginginkannya dalam hidup: kebebasan. Yes, it is a freedom. Sejak dulu aku yakin bahwa kita terlahir bebas. Setiap manusia adalah jiwa yang bebas dan berdaulat atas dirinya sendiri. Aku tidak tahu darimana aku mulai mematri prinsip itu kedalam aliran kehidupanku. But, you know, growing up, aku dibesarkan dengan orangtua yang tidak banyak peduli atas apa yang aku lakukan. Maksudnya, banyak hal yang kulakukan, it’s mostly depends on me. Jadi mungkin hal itu yang membuatku sejak dulu selalu melibatkan diri sendiri terlebih dahulu dalam mengambil keputusan. Setelahnya ada kondisi maupun faktor lain yang melatarbelaka...

Terkadang Aku

Terkadang, aku selalu merasa bahwa aku ini begitu idealis. Terhadap sesuatu, aku selalu mencoba untuk tidak keluar dari pandangan yang telah aku pegang sebelumnya. Misal sejak dulu aku tidak menyukai hal-hal yang sama. Aku selalu percaya bahwa segala hal itu harus berbeda dan memiliki jalannya sendiri. Ketika ada orang yang menekuni bidang sastra, kamu tidak boleh juga, dalam artian sekedar ikut-ikutan, tepat persis seperti apa yang ditekuni orang itu. Toh, kalaupun kamu benar-benar ingin menekuninya, itu harus datang dari dalam dirimu sendiri. Semacam itu, aku tidak suka diikuti, apalagi mengikuti. Aku sangat menolak keras kata imitasi. Termasuk kepalsuan. Aku sangat mencintai segala hal yang otentik. Dan itu terjadi disetiap hal dalam hidupku. Dalam banyak hal aku sering dianggap, pun merasa sebagai pribadi yang pendiam, tidak ramah hingga kaku. Kupikir aku tidak kaku dan serta merta menolak segalanya. Aku hanya melakukan apa yang ingin kulakukan, yang menurut pandanganku pantas ...