Tidak Rela

 

Mungkin aku terlalu banyak belajar tentang merelakan. Banyak hal lewat benar-benar jadi lampau begitu saja di hadapanku. Tak ada sisa kecuali lamunan hampa. Aku belajar, bahwa seuatu yang lewat begitu saja, artinya itu bukanlah milikku. Dan apapun yang bukan miliki, jauh dari genggamanku, diluar mampuku dan bukan hal yang patut kusesali. Dan hidup, katanya akan begitu tenang.

Ditambah baru saja kutamatkan Filosofi Teras, buku itu akhir-akhir ini jadi wacana yang dibahas. Tapi sebenarnya sejak 2019 aku sudah baca-baca soal pemikiran Epictetus hingga Marcus Aurelius. Semua serasa cocok dengan pedalamanku. Beberapa hal seperti kendali pikiran, tindakan, dan respons diri masih bisa kuterima. Sejak awal aku melatih diriku untuk senantiasa menyadarinya.

Namun ketenangan yang didamba itu kini kurasakan hanya seperti uap saja. Semu dan tak benar-benar hidup. Aku rasa hidup ini butuh ambisi dan satu rasa bergejolak. Dan ketenangan membuatku larut, hingga hanyut. Selalu dalam suasana hampa dengan menafikkan gejolak-gejolak yang datang. Bahkan ketenangan bisa memaklumi kelalaian tanpa rasa gundah. Dunia seperti baik-baik saja dan berharap setiap jiwa damai sentosa. Nyatanya, hidup menggelar banyak problema yang tak cukup disikapi dengan gelagat diam, tanpa asa, tak paham duduk perkara. Seperti tak bernyawa!

Akhirnya, aku memutuskan bahwa aku hanya ingin hidup seapaadanya. Ayo, kita berkelana! Inilah arena untuk kita benar-benar hidup dengan makna-makna yang kita temukan sendiri. Tentu tak akan pernah mulus semua-muanya, tapi toh tak akan hancur segalanya. Dan aku kini mendapati diriku, tepat larut malam saat menulis ini, aku beranjak dari eskapisme itu, aku harus menyusun banyak rencana. Aku takkan takut pada guncangan-guncangan. Justru musuh paling nyata kita hari ini adalah ketenangan dan kemapanan yang mejelma kelalaian, yang membuat hati mengering, hilang kepekaan dan jiwa kian hampa. 

Begitulah bagiku, hidup bebas dan tak berbatas, kujalani sebagaimana layaknya...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seri Catatan: On Beauty and Terror [1] Kupu-Kupu

Dear Sore, Urip Mung Saderma Nglakoni

Hazy