Postingan

Kaku banget sih jadi orang...

Apa aku ini terlalu banyak berpikir tentang mendahului orang lain? Apa aku ini terlalu menjadikan orang lain sebagai tolok ukur? Tidak. Jelas sekali aku akan bilang tidak. Aku tidak peduli, saat ini, sangat tidak peduli, mencoba untuk sangat tidak peduli pada orang lain. Tidak ada yang peduli padaku tentang itu juga sebenarnya. They just say hi. Dan berlalu begitu saja. Orang-orang singgah dan pergi tanpa bekas yang berarti. Because we're a work of art! Not everyone will understand, but the one who do, will never forget about us. Dan belum, setidaknya aku masih percaya akan ada, orang yang mampu memahamiku, diluar diriku. Dalam segala hal, aku selalu ingin tidak gagal. Siapa juga yang ingin gagal? Tidak ada kecuali kau orang yang terlalu baik. Dan aku tidak. Aku tidak baik. Aku tidak ingin jadi baik. Tidak juga jadi buruk. Aku ingin jadi diriku seperti ini, tanpa penilaian. Walaupun tidak mungkin aku menghindar dari penilaian dan pemahaman. Manusia memang punya naluri yang melekat ...

Jangan Benci Dia

Gambar
Pagi itu aku berjalan cepat menuju ruang kelasku yang baru. Pada awalnya kelasku terletak di bangunan gedung  selatan sekolah, namun karena kelas dua belas sudah melaksanakan ujian dan sudah bebas, kelas-kelas yang berada di gedung selatan sebagian dipindah ke gedung utara. Ya, sekolahku terdiri dari dua gedung yang terpisah. Dan itu sungguh menyulitkan. Ada berapapun gedung di sekolahku itu tak penting. Yang terpenting adalah letak kelasku. Bodohnya aku, mengapa aku sama sekali tak ingat pengumuman hari sebelumnya.  Aku hanya ingat bahwa kelas sebelas B1 terletak di lantai dua, jadi aku harus mengelilingi koridor lantai dua. Aku sendiri menggerutu, mengapa kelasku berada di lantai dua, demi apapun, aku tak suka naik-turun tangga. Aku berjalan sambil mencari plakat “XI B1” di atas pintu kelas. Kesalnya tak juga ketemu. Saat berjalan aku sedikit tersentak karena tiba-tiba aku melihat seseorang berjalan di belakangku. Seseorang itu tak asing, dia adalah Restu, tem...

Senyum Tanpa Suara

Gambar
Pandangan gadis bertubuh mungil dengan rambut lurus terurai sebahu itu sebenarnya tak lepas dari pemuda yang duduk di kursi sebelahnya. Mereka tak saling kenal, tetapi tak asing satu sama lain karena sudah hampir dua tahun mereka selalu bertemu di dalam bus yang sama ketika berangkat sekolah. Gadis itu sudah seperti seorang intel yang terus mengamati setiap gerak-gerik korbannya. Barangkali merasa risih karena terus diperhatikan, sesekali pemuda itu menoleh ke arahnya dan gadis dengan name tag Kayla Arsyda pun berpura-pura mengalihkan pandangan ke arah jalan atau membaca buku bahkan memejamkan mata seolah ia sedang tidur. Pemuda itu tersenyum tiap kali melihat tingkah lakunya, namun Kayla tak menyadarinya. Hampir setiap hari ia melihat pemuda yang terlihat sebaya dengannya itu menaiki bus dan duduk di kursi yang sama dengan penampilan yang sama pula. Pemuda itu selalu menggunakan jaket berwarna merah, celana abu-abu SMA, earphone yang tersumpal di telinganya, dan terkadang sebuah ...