Postingan

Telapak-telapak...

Seri Catatan: On Beauty and Terror

[1] Kupu-Kupu Bulan Oktober menuju November lalu, saat kemarau tinggal sisa-sisa, aku banyak menempuh perjalanan panjang. Sepanjang bulan itu, aku bisa pulang saban minggu. Dan sepanjang bulan itulah, perjalanan pulangku dipenuhi kawanan kupu-kupu kuning. Ribuan kupu-kupu kuning itu terbang bergerombol, sampai kadang-kadang mereka menempel, menabrak mengenai helemku. Rasanya gidik, ngeri, sekaligus takjub. Aku punya ketakutan yang aneh pada kupu-kupu. Mungkin sudah sampai tingkat fobia, karena rasa takut itu tidak rasional dan kurasa berlebihan. Entah apa sebab dan juntrungnya, yang jelas, seperti ada trauma tersendiri ketika melihat serangga terbang yang dinilai punya sayap menawan oleh sebagian besar orang itu. Saat belia, sekitar kelas satu atau dua SD, aku berjingkatan main ke pekarangan rumah. Seperti yang biasa kulakukan: keliling kebon, menjumputi bebijian, daun, bunga dan benda-benda unik di tanah. Kami punya satu pohon mlinjo besar di barat rumah. Pohon itu selalu jadi t...

Drink My Words

Gambar
kepalaku teras yang menangkap gaduh dari ruang tengah menadah kepala lain yang lasah ia rongga lapang, dibawa angin buritan yang mengarah-arah kepalaku, serba wadah kata-kata di dalamnya rutin tumpah meluber jadi sumpah-sumpah kepalaku bunyinya lebih ringan daripada napas yang berdesah, tak lebih deras dari alir darah ia bunga karang, digerus air pasang yang memecah-belah di dalamnya, susah payah hanya sebesar zarah kepalaku, adalah bayang rintang yang menyaksikan tangan-tangan menengadah ia menunggu seorang penerjemah, yang asalnya dari antah berantah, kata-kata di dalamnya menjelma ruh-ruh basah: masuk ke cawan yang dituang oleh tanganku, diminum seteguk orang seisi rumah.

Lakuning Srengenge

Gambar
Aku lahir selaku matahari, terang dan panas Waktu bayi wujudku nyaris bulat sempurna, kering tanpa tangis Merangkak dengan sinar-sinar yang berkilatan Lalu terbit jadi belia, berjingkatan jadi pusat hari-hari Lelap dan terjaga dari sisi-sisi berbeda Muncul membenam di saat yang sama Dikitari kabut lembut sekaligus badai api-api Darahku adalah pendar Mengalir hangat Menguap memancar Tanganku adalah sinar Menyentuh semua Menembus pandang Ludahku api menyala Menerangi, atau lamat membakar Aku tua selaku matahari, terik dan berjarak Sorotku memeluk segala,  membuat gamblang,  membuat buta Aku berdiri dari kilau-kilau, yang tak sekalipun dijamah Kecuali ia sama-sama bara, yang juga nyaris bulat sempurna, ikhlas tanpa pamrih

Hantu Pulang

Gambar
  Tatkala aku merasa jemu mengikuti generasi-generasi dan letih menyaksikan prosesi orang-orang dan bangsa-bangsa, aku duduk seorang diri di lembah hantu-hantu, dimana kenangan-kenangan dari generasi lalu bersembunyi, dan semangat dari zaman mendatang berbaring menunggu. - Kahlil Gibran Ada bencana besar yang dibiarkan menyantap dan menelan banyak dari kita, secara bulat-bulat, dengan serempak. Menggilas menuju puas. Kita dikunyah habis, disesap sampai saripati diri habis. Tak ada sesepah pun yang dilepas. Bencana besar itu membuat tak sedikit perkara jadi hambar dan hilang dayanya. Ia menyudahi kita langsung dalam momen suntuk, ketika tak sesiapa pun dapat digenggam, dan tanpa selera terhadap apa-apa. Malam ini, aku menyadari satu kata yang lebih dari tiga kali kujumpai dalam sehari. Kata itu, barangkali yang beberapa hari ini mengusik: pulang. Aku selalu percaya bahwa kata-kata dan ide-ide adalah pesan, meski diendapkan dalam durasi yang lama akan terus menghantui pikiran sampai ...

Bukan Cerita Werkudara dan Arimbi

Gambar
“It is difficult because you’re not here for the lust, inflation, quantity, comparison, competition, or constant experiences. You’re here for solidarity, peace, tranquility, soul, deepness, love and empathy.” *** Silakan tertawa atau bergidik-gidik selepas kalimat yang kutulis ini selesai. Tak apa dan perlu kuakui terang-terangan: setelah sekian abad, akhirnya aku berani menyatakan–setidaknya pada diriku sendiri dan teman dekat–bahwa aku jatuh hati. Seperti di film-film. Persis di cerita-cerita novel. Dimana aku akhirnya memenuhi syarat untuk masuk dalam definisi jatuh cinta: ketika kamu mengagumi seseorang, bahkan sejak pandangan pertama, lalu jantungmu deg-degan, ada perasaan membuncah dan meletup-letup, ada obsesi dan ambisi untuk terpikat dan memikat. Sejauh ini aku menganggap relasi yang kupunya dengan setiap manusia begitu beragam. Dan sangat amat rumit untuk dikategorikan dalam konstruksi-konstruksi yang sudah ada. Aku lebih-lebih memandang dan mengukurnya dari seberapa kuat ‘ko...

Sepa-Ruh

Gambar
  Beberapa malam ini, ujung telapak kaki tanganku biru. Dingin menjekut seperti tak punya darah. Hari ini aku sengaja keluar pagi-pagi tanpa sarung tangan dan jaket supaya badanku terkena sengat siang hari. Tapi tadi kuamati kulitku mengkerut. Punggung tanganku keriput kering. Pucuk jari-jari dingin. Kuku-kuku seperti terbalut lilin beku. Di tengah jalan pulang, aku bertemu ruh yang ratusan tahun kukenali tapi belum juga kupahami. Ratusan tahun kami berjalan dekat beriringan, disekat kabut. Kadang tipis, kadang tebal. Saat kabutnya tipis, aku bisa menangkap pesan yang ia sampaikan, senyap dan terang. Kosong dan tenang. Saat kabutnya tebal, aku sepenuhnya dijuluki sebagai makhluk bernama manusia. Punya nama, punya sandangan, dan punya banyak kebutuhan-keinginan. Sepenuhnya dungu dan tak bisa bicara apa-apa tentang dirinya. Mencari bahasa lewat kata-kata, dalam puisi, potongan gambar atau larik-larik di buku serta bait lagu yang paling mewakili. Semuanya sengkarutan seperti tak punya...

Karat

Kita diterpa terik di pagi hari, dihujam hujan menjelang petang, dingin menjekut di malam-malam. Badan kita mudah oleng, hati kita mudah goyah. Pada suatu masa, usia kita bakal menyusut cepat seperti kuota internet, ingatan kita lekas hilang karena sudah terlalu banyak nonton video pendek Tiktok.  Wajah kita mulus dan kinclong karena skincare lebih laku daripada nasi anget sarapan di pagi hari. Kita sebentar lagi tiba di satu masa, dimana jerawat bisa diakali, dosa bisa ditebus lewat konten. Pada suatu masa, kita akan tiba di momen dimana kemurungan jadi gaya hidup. Kita akan melampaui tuli: bisa bicara tapi tak bisa mendengar. Jiwa kita dibiarkan melayang-layang tanpa sadar. Ragam manusia liyan datang mendekat, ingin bertandang dan cari tempat pulang. Tapi kita tak benar-benar terhubung. Kita terputus-putus, gampang pikun, cepat sambat, dan mudah lelah.  Kita tak benar-benar berpegang teguh pada satu hal yang membuat kita punya rasa hidup.  Suatu hari, batin yang tenang ...