Postingan

Kesadaran Kreatif dalam Komunikasi Kenabian

Gambar
    Meskipun ilmu sosial profetik menjadi upaya Kuntowijoyo dalam mengimbangi paradigma orientalisme pemikir Barat, bukan berarti kita harus menutup diri dari kerangka keilmuan tersebut. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana ia memaknai konsep yang terkandung dalam Surah Ali-Imran ayat 110.   Ia menafsirkan ayat tersebut sebagai pemantik ilmu sosial profetik. Ada narasi besar yang diusung, yaitu humanisasi dan emansipasi ( amr ma’ruf ), liberasi ( nahiy munkar ), serta transendensi ( tu’min billah ). Interpretasi ini tak hanya berada di permukaan, tapi juga harus mewujud dalam aksi. Paradigma ini  dapat dikatakan sebagai reaksi atas dampak modernitas—dehumanisasi. Hakikat manusia telah berputar arah sangat jauh dengan adanya industrialisasi. Martabat tak lebih dari instrumen industri dimana manusia dihargai sebatas dari produk yang dihasilkan dan semua serba materi. Di sinilah Kuntowijoyo ingin membawa kembali spirit transformatik keilmuan, khususnya dalam ilmu-il...

Sebuah Surat untuk Kamu dari Aku, dua puluh satu masehi

Gambar
Apakah ada sesuatu yang hilang? Adakah yang mati? Terkadang dunia-dunia peri di dalam dirimu menguncup. Telah cukup lama kamu selalu berbenturan dengan dunia liyan yang jauh lebih besar, riuh dan lantang. Dunia peri itu dulu tak peduli dengan apa-apa yang menghantamnya, ia tetap berputar dan membuatmu bahagia lewat mimpi-mimpi. Ia selalu membuatmu meliuk-liuk lepas. Kini, makin lama kamu hidup, rasanya ada yang mati. Pupus dan hilang arti. Saat belia kamu berangan setiap jiwa murni punya peran besar bagi setiap gerak raga dan polah manusia. Kamu menolak tabiat-tabiat gelap. Bahwa setiap hal adalah baik. Segalanya punya cela untuk dibela. Setidak-tidaknya dari benakmu, luka lahir tanpa sengaja. Kamu yang belia adalah sosok jembar hati. Sebab telah ada dunia yang kau punya. Ada dunia yang setiap manusia juga punya. Setiap kepala adalah dunia. Hingga saat dunia-dunia itu dipaksa tak berputar pada porosnya, kau masih juga bertanya, “mengapa?” Setelah besar, dunia yang sedang kamu t...

Kelas Menengah Gudang Garam

Gambar
  orang-merokok.jpg (1200×778) (wordpress.com) Beberapa bulan lagi rumahnya bakal didatangi banyak tamu. Akan ada pesta besar semalaman suntuk. Seisi desa berbondong-bondong turut mempersiapkan acara itu. Dan Bapak-Tua itu tak ingin mengecewakan siapapun. Meski pandemi masih eksis, itu bukan apa. Putra pertamanya tetap akan melangsungkan pernikahan di tahun depan. Bapak-Tua itu optimis hari akan semakin membaik. Kondisi segera pulih dan semua orang dapat berkumpul merayakan pengantin baru. Segala perintilan tradisi pernikahan kejawen harus masuk daftar “rampung”. Setidaknya sebulan sebelum hari-H tiba. Biaya tak menjadi hal. Prinsipnya, yang penting semua lancar dan banyak orang bersenang-senang. Bapak-Tua itu adalah tipikal pria loyal. Ia tak peduli apapun—termasuk uang—jika itu demi kepentingan lain yang menurutnya lebih esensial, “Kenapa tidak?” Suatu ketika, ia menyuruh putranya untuk membeli sepasang cincin pernikahan secara langsung. Ia bersedia merogoh uang berapa saja, asal...

Kenapa Saya Membatasi Akses "Begitu Saja" di Internet?

Gambar
  Media baru, lebih-lebih media sosial, kini memiliki kekuatan yang cukup besar untuk menggiring agenda dari sebuah media. Topik-topik pembicaraan tidak benar-benar hadir dari media itu sendiri. Bahkan kita cenderung mengonsumsi suatu informasi yang datang dari lini masa media sosial kita. Saat ini sedikit dari kita yang mengakses informasi, khususnya berita, melalui pencarian langsung. Semua cuplikan berita sudah dengan runut digelar di depan mata kita melalui lini masa. Itu pun, apa yang muncul akan selalui sejalur dengan apa yang cenderung kita sukai dan ikuti. Kita seperti berada di bilik masing-masing. Asyik dengan pembahasan yang itu-itu terus. Dan kita akan selalu merasa dipuaskan, dicekoki dengan algoritma internet yang semakin hari semakin menguat berkat klik jempol kita. Fenomena itu senada dengan sebuah riset konsumsi media yang dilakukan pada Juni 2017 lalu. Dari sebanyak 300 mahasiswa Gen-Z di 30 kampus se-Jakarta ditemukan bahwa konsumsi berita cenderung melalui pen...

Pesan

  Kemarin sore dalam perjalan pulang dari rumah Simbok, sebutan untuk nenekku, aku naik motor dengan ibu ke arah barat. Saat itu juga, aku tak bisa lepas pandang dari bulatan cahaya oren. Matahari sore itu seperti tak berhenti melihatku. Seperti punya suara. Sedang aku mencoba mendengarnya melalui indera mata. Aku bahkan menyetir motor tanpa kesadaran penuh. Kami melaju mengikuti jalan menikung, berliku ke arah kiblat. Aku terpana. Setiap hari aku terpana melihat rupa-rupa matahari. Tak pernah kutemukan matahari seindah hari itu dengan hari lain. Pun dengan matahari hari ini, hari esok dan esoknya lagi. Setiap hari bagiku pesonanya tidaklah sama. Semua tampil dalam versi terbaik. Pada sebuah tanjakan di bawah pohon trembesi aku berhenti. Mengajak ibuku benar-benar memperhatikan pemandangan itu. Ibuku sekadar mengakui keindahannya, dan seolah merasa keindahan itu milik sang matahari sendirian. Tidak untuk siapapun yang memandangnya. Ia turun dari motor. Aku sedikit terhenyak denga...

Tidak Rela

  Mungkin aku terlalu banyak belajar tentang merelakan. Banyak hal lewat benar-benar jadi lampau begitu saja di hadapanku. Tak ada sisa kecuali lamunan hampa. Aku belajar, bahwa seuatu yang lewat begitu saja, artinya itu bukanlah milikku. Dan apapun yang bukan miliki, jauh dari genggamanku, diluar mampuku dan bukan hal yang patut kusesali. Dan hidup, katanya akan begitu tenang. Ketenangan yang didamba itu kini kurasakan hanya seperti uap saja. Semu dan tak benar-benar hidup. Aku rasa hdiup ini butuh ambisi dan satu rasa bergejolak. Dan ketenangan membuatku larut hingga hanyut. Selalu dalam suasana hampa dengan menafikkan gejolak-gejolak yang datang. Bahkan memaklumi kelalaian tanpa rasa gundah. Dunia seperti baik-baik saja dan setiap jiwa damai sentosa. Nyatanya hidup menggelar banyak problema yang tak cukup disikapi dengan gelagat diam, tanpa asa, tak paham duduk perkara. Seperti tak bernyawa! Ayo, berkelana! Inilah arena untuk kita benar-benar hidup dengan makna-makna. Tak ak...

Ujung Pertemuan

Pada sebuah telaga terbentang puncak gunung dan ujung laut Kalau kau bediri di bibir pantai, kepalamu harus mendongak hingga gunung berada di jangkauan Dari atasnya semua terhampar Begitulah cara pandang keduanya Puncak melihat laut setelah telaga Laut hanyalah pada gunung   Pada sebuah telaga seorang gadis bertemu dengan dirinya sendiri Bermimpi tentang perjalanan jauh ke atas gunung Dan tak ada yang pernah tahu sampai ia hanyut di air telaga yang juga menuju dirinya sendiri Merengkuh ia pada angin gunung, lalui lembah telaga lalu laut ialah ujung