Postingan

Cahaya Senyap dan Pintu yang Terbuka

Bagaimana aku tak linglung Jika ketika kusuruh pintu untuk tertutup ia hanya diam Cahaya yang entah dari bintang yang paling bahari dari bintang pemungut cahaya bintang lain bintang buatan atau bintang-bintang lain yang aku tak peduli Sampai cahaya cempala itu menerobos mengenaiku Aku jadi linglung dan malah mataku yang tertutup Lalu semuanya gelap seperti sesuatu yang entah apa aku tak peduli Semuanya gelap, senyap-senyap Bagaimana aku tak linglung Jika mataku tertutup, tubuhku masuk menyusuri lorong diriku Semuanya gelap, senyap-senyap Tak ada yang kuketahui Sebab pintu-pintu terus terbuka dan kegelapan enggan bercerita tentang rasa-rasa yang entah apa aku tak peduli Bagaimana aku tak linglung Jika kudapati semuanya diam sembari berbisik bahwa aku ini tak lebih dari kumpulan rasa yang tak diketahui entah apa aku tak peduli  

Sebuah Surat untuk Kamu dari Aku, sembilan belas masehi

Gambar
Ketika ruang dan waktu belum juga berhenti memaksa akan keberadaannya, pagi berlalu menjadi malam. Kamu menutup lalu membuka mata. Kamu menghirup udara ke dalam tubuhmu lalu mengeluarkannya. Terus seperti itu sampai entah kapan akan berhenti. Kamu yakin akan itu, akan saat dimana semuanya berhenti. Semesta berhenti. Karena semesta adalah apa yang kamu sadari melalui dirimu. Dirimu adalah semesta, bukan bagian darinya. Banyak yang berkata bahwa tempat dimana kamu berpijak ini adalah sebuah lingkaran, yang berputar seperti roda, yang membentuk sebuah siklus. Semuanya adalah tentang apa-apa yang bergerak. Tentang kakimu yang terus melangkah diatas pijakan yang juga berputar, bersama batasan masa, candra sangkala yang merangkak melebihi kencangnya perjalanan. Juga terkadang semua adalah tentang apa yang telah banyak dikatakan. Namun, kamu tahu, semenjak penglihatanmu tak hanya bisa melihat, penciumanmu tak hanya mencium, pendengaranmu tak hanya mendengar, perabamu tak hanya meraba,...

Tentang Paradoks Batu

Paradoks. Paradoks menurut pemahaman saya adalah sebuah kata untuk mewakili keadaan yang disana terdapat beberapa premis, dimana premis-premis tersebut kontradiktif dengan apa yang sebelumnya biasa ada dan dianggap benar. Paradoks pada bayangan saya adalah seperti cabang-cabang yang bercabang-cabang tak ada ujung, seperti lapisan-lapisan yang berlapis-lapis tak ada habis. Pernah dengar omnipotence paradox ?   Paradoks yang mempertanyakan tentang kemahakuasaan Tuhan, seperti halnya “ The Paradox of Stone ”: Bisakah Tuhan menciptakan sebuah batu yang sangat berat hingga dia sendiri tak dapat mengangkatnya ? Apa yang saya tangkap adalah sebenarnya paradoks tersebut berangkat dari entah pertanyaan atau pernyataan tentang kemampuan Tuhan menafikan dirinya. Hal itu dapat kita lihat dari presmis-premis pokok dari paradoks ini yang menggiringnya pada jawaban iya dan tidak . Jika iya , bahwa Tuhan bisa menciptakan batu yang sangat berat hingga dia sendiri tak dapat mengangkatny...

Senyum Ejek Hujan

Aku dengar itu Gelak nabi dari rinai-rinainya awan Terlihat riuh namun pada halnya ia adalah perihal yang singular Lalu bumi telah terlanjur basah Dan pada momen yang sama sang waktu menggertak Lalu aku dengar dengan jelas lagi itu Dalam basahnya bumi ada sesuatu yang meronta-ronta kekeringan Begitu gaduh namun pada halnya ia adalah perihal yang hambar Selalu   tuduh benci itu memang terpayah Hingga ketika semuanya reda tak ada momen untuk menidak Aku mungkin tak dengar lagi itu

Yang Meronta-Ronta?

Pernah tidak kau merasa begitu gundah, dengan tanpa alasan yang jelas? Hanya rasa itu tiba-tiba datang dan begitu menguisik. Seperti ada bagian di dalam dirimu yang meronta-ronta, entah itu kesakitan, kesepian, kegamangan, kekhawatiran, entah apapun itu rasa-rasanya, tak terwakili oleh gabungan kosakata apapun. Hanya saja kau merasa kehampaan yang luar biasa, sepanjang hari. Kehampaan-kehampaan itu penuh dan menyesakkan. Tak ada satupun yang benar-benar manusiawi di matamu. Bahkan orang yang sedang kau taruh hati padanya. Apalagi orang yang teranggap dekat denganmu, hanya karena mereka di dekatmu sejak kau lahir hingga tumbuh, siapapun yang di sekitarmu, tak akan memahami. Kau punya ruang sendiri yang sulit untuk kau keluar darinya, begitupun mereka yang sulit untuk menembus masuk ruangmu mungkin. Tapi siapa juga yang mau masuk? Kau terus-terusan merangkak, terkadang sambil terisak, berusaha menemukan dan menjadi apa yang sepenuhnya kau mau. Namun tanah yang kau pijak, tak hanya ...

Dengar Aku Cak!

Kuceritakan kau tentang Chiaroscuro satunya selain kertas yang kugambar kemarin saat aku melakukan tarian tanpa gerak Sedikit saja kuceritakan, tak semuanya Aku tak paham bagaimana interesmu kini dan nanti, setidaknya aku tahu bahwa memang itu tak ada Kuceritakan sedikit saja sampai jalanan benar-benar nyenyat Tak usah kau tegur, sebab mataku akan spontan berhenti ketika benda-benda bising itu pulang kandang Kuceritakan sangat sedikit saja, jangan khawatir Tetaplah di bawah lampu itu Tetaplah diam disitu Namun kau boleh memilih suara-suara bising itu daripada cerocosan mataku tentang Chiaroscuro Tetaplah disitu, jangan beranjak Jangan beranjak dengan melewati kabel atau aku akan berhenti bercerita

Fantasi Chiaroscuro

Gambar
Aku tertawa tanpa suara Sebab mata-mata yang tak terpejam itu tak melihat Di waktu yang sama Aku masih menari tanpa gerak Walau mata-mata yang tak terpejam itu masih tak melihat Di waktu yang sama Mereka yang di dekatku jauh Terus-terusan bernyanyi mengiringi tari tanpa gerakku Sangat tak selaras "Tak ada yang mau selaras!" Tanganku melonjak pergi Merobek lembaran kertas catatan logaritma Yang berserakan mengitariku Tanganku melukis fantasi fantastis yang lama sembunyi dibalik kelam Aku tertawa terbahak Mentari seketika menerobos mengenai lukisan itu Indah sekali Lukisan fantasi tanganku kini mirip chiaroscuro Di waktu yang sama Aku berhenti menari dengan iringan orang dekatku yang jauh Selama mata-mata yang tak terpejam itu tak melihat Aku terus membuat chiaroscuro fantasiku