Postingan

Selamat Mati

Mataku membelalak, aku terbangun dari kobaran api lalu kuhentak-hentakkan kakiku Menghinggut-hinggut hingga roboh semua setan-setan yang mati dalam tubuhku Berkoar-koar melagukan syair penanda hari Selamat datang Selamat pagi Selamat siang Selamat sore Selamat petang Selamat malam Selamat pulang Setan-setan yang mati roboh Setan-setan yang hidup bangkit Tubuhku ini seakan kapas terbakar, namun mataku seperti bola api menyalak-nyalak Menghentak-hentakkan hingga bangkitlah yang hidup Menghinggut-hinggut hingga robohlah yang mati Selamatkan syair penanda hari Tak ada peduli pada kobaran api Tak ada peduli pada yang mati Selamatkan syair penanda hari Sebab untuk hidup, harus ada yang mati

Apa Kamu Pura-Pura Kenal?

Kamu waktu itu seperti biasanya, berdiam diri dan mengamati sekitar. Atau mengeluarkan suara dengan terpaksa, pada halnya esensimu sedang kabur dan berbaur pada ruang apa yang kamu inginkan. Atau tiba-tiba saja kamu berada disana. Kamu melihat seorang lelaki yang meraba-raba untuk berjalan. Mata fisiknya buta. Seumur hidup, hanya di tempat itulah kamu banyak menemukan orang-orang seperti itu. Awalnya kamu merasa kasihan dengan orang yang kebanyakan orang sebut cacat. Mereka begitu terbatasi. Bukan, bukan fisik mereka yang terbatas, namun lingkungan mereka. Berbicara tentang keterbatasan, kamu berpikir bahwa pada dasarnya setiap manusia memilikinya, semua orang adalah ‘cacat’ apabila yang dilihat adalah setinggi-tingginya kemungkinan. Lalu orang-orang yang disebut ‘cacat’ tadi tidaklah berbeda dengan yang lain. Jika fisik mereka seperti itu, maka itulah fisik mereka yang utuh. Orang-orang tidak bisa melihat seseorang dengan orang lain secara bersamaan. Jadi, begitulah adanya, ...

Menertawakan Si Jenius Dungu

Gambar
Kita telah terlanjur berada di dunia dengan dua kategori yang dilekatkan pada diri seseorang mengenai kecerdasannya. Jenius dan dungu. Secara teori psikologi pada titik itulah manusia barangkali berada di suatu kondisi cognitive distortion dalam teori milik Aaron Beck. Seperti black and white thinking hingga labelling. Sehingga merasa bahwa dirinya maupun orang lain selalu tinggi atau selalu rendah. Seolah tidak ada alasan untuk tidak membandingan sesuatu pada diri kita dan orang lain. Atau parahnya, menertawakan orang lain ketika merasa diri kita tidak serendah mereka. Melalui novel klasik Charlie Si Jenius Dungu ini, Daniel Keyes berhasil menyentuh persis pada hati nurani dan akal sehat pembaca mengenai hal itu. Sentuhan yang begitu lembut, hangat dan tepat hingga melelehkan bongkahan air mata siapapun yang membaca lembar demi lembar kisah Charlie. Ia menyempurnakan sentuhan itu dengan kutipan dari Plato yang bijaksana pada halaman pertama bukunya: “Setiap orang yang berak...

Cahaya Senyap dan Pintu yang Terbuka

Bagaimana aku tak linglung Jika ketika kusuruh pintu untuk tertutup ia hanya diam Cahaya yang entah dari bintang yang paling bahari dari bintang pemungut cahaya bintang lain bintang buatan atau bintang-bintang lain yang aku tak peduli Sampai cahaya cempala itu menerobos mengenaiku Aku jadi linglung dan malah mataku yang tertutup Lalu semuanya gelap seperti sesuatu yang entah apa aku tak peduli Semuanya gelap, senyap-senyap Bagaimana aku tak linglung Jika mataku tertutup, tubuhku masuk menyusuri lorong diriku Semuanya gelap, senyap-senyap Tak ada yang kuketahui Sebab pintu-pintu terus terbuka dan kegelapan enggan bercerita tentang rasa-rasa yang entah apa aku tak peduli Bagaimana aku tak linglung Jika kudapati semuanya diam sembari berbisik bahwa aku ini tak lebih dari kumpulan rasa yang tak diketahui entah apa aku tak peduli  

Sebuah Surat untuk Kamu dari Aku, sembilan belas masehi

Gambar
Ketika ruang dan waktu belum juga berhenti memaksa akan keberadaannya, pagi berlalu menjadi malam. Kamu menutup lalu membuka mata. Kamu menghirup udara ke dalam tubuhmu lalu mengeluarkannya. Terus seperti itu sampai entah kapan akan berhenti. Kamu yakin akan itu, akan saat dimana semuanya berhenti. Semesta berhenti. Karena semesta adalah apa yang kamu sadari melalui dirimu. Dirimu adalah semesta, bukan bagian darinya. Banyak yang berkata bahwa tempat dimana kamu berpijak ini adalah sebuah lingkaran, yang berputar seperti roda, yang membentuk sebuah siklus. Semuanya adalah tentang apa-apa yang bergerak. Tentang kakimu yang terus melangkah diatas pijakan yang juga berputar, bersama batasan masa, candra sangkala yang merangkak melebihi kencangnya perjalanan. Juga terkadang semua adalah tentang apa yang telah banyak dikatakan. Namun, kamu tahu, semenjak penglihatanmu tak hanya bisa melihat, penciumanmu tak hanya mencium, pendengaranmu tak hanya mendengar, perabamu tak hanya meraba,...

Tentang Paradoks Batu

Paradoks. Paradoks menurut pemahaman saya adalah sebuah kata untuk mewakili keadaan yang disana terdapat beberapa premis, dimana premis-premis tersebut kontradiktif dengan apa yang sebelumnya biasa ada dan dianggap benar. Paradoks pada bayangan saya adalah seperti cabang-cabang yang bercabang-cabang tak ada ujung, seperti lapisan-lapisan yang berlapis-lapis tak ada habis. Pernah dengar omnipotence paradox ?   Paradoks yang mempertanyakan tentang kemahakuasaan Tuhan, seperti halnya “ The Paradox of Stone ”: Bisakah Tuhan menciptakan sebuah batu yang sangat berat hingga dia sendiri tak dapat mengangkatnya ? Apa yang saya tangkap adalah sebenarnya paradoks tersebut berangkat dari entah pertanyaan atau pernyataan tentang kemampuan Tuhan menafikan dirinya. Hal itu dapat kita lihat dari presmis-premis pokok dari paradoks ini yang menggiringnya pada jawaban iya dan tidak . Jika iya , bahwa Tuhan bisa menciptakan batu yang sangat berat hingga dia sendiri tak dapat mengangkatny...

Senyum Ejek Hujan

Aku dengar itu Gelak nabi dari rinai-rinainya awan Terlihat riuh namun pada halnya ia adalah perihal yang singular Lalu bumi telah terlanjur basah Dan pada momen yang sama sang waktu menggertak Lalu aku dengar dengan jelas lagi itu Dalam basahnya bumi ada sesuatu yang meronta-ronta kekeringan Begitu gaduh namun pada halnya ia adalah perihal yang hambar Selalu   tuduh benci itu memang terpayah Hingga ketika semuanya reda tak ada momen untuk menidak Aku mungkin tak dengar lagi itu